Roysdan Puluhan Tahun Terjerat Utang pada Tengkulak

Sudah puluhan tahun Roysdan terus-menerus berutang kepada tengkulak, baik untuk modal tanam maupun pinjaman pupuk. Bukannya tidak tercekik, tapi Roysdan tak punya pilihan lain sebab meminjam di tengkulak relatif lebih mudah.

Roysdan di depan lahan yang ia garap. (ACTNews)

ACTNews, SIGI - Banyak petani padi di Sulawesi Tengah, masih bergantung pada tengkulak. Sebab, pada dasarnya mereka, khususnya petani kecil, masih kesulitan memperoleh modal di masa tanam. Akibatnya, banyak dari mereka yang terbelit utang.

Roysdan dari Kelompok Tani Harapan Jaya 1 Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah ini misalnya. Bapak berusia 68 tahun ini mengaku sudah puluhan tahun menggantungkan hidupnya pada pinjaman riba tengkulak. Meski kondisi tersebut sangat menyulitkannya, ia mengaku terpaksa karena tak ada pilihan lain.

Roysdan mengungkapkan, ia harus membayar bunga pinjaman yang cukup tinggi dari tengkulak. Untuk pengolahan, Roysdan biasanya mengambil pinjaman senilai Rp7 juta. Ketika masa panen tiba, ia harus mengembalikan pinjamannya yang nilainya jauh lebih tinggi, yakni sekitar Rp9 juta.

"Pembayaran modal tanam itu memotong dari hasil panen kita. Sejak awal saya bertani memang sudah begitu. Sangat sulit kami rasa, apalagi jika di saat hasil panen kurang memuaskan," keluh Roysdan pada Sabtu (22/8) lalu. Ia berharap, nantinya ada bantuan modal dengan bunga yang lebih ringan. Sehingga ia bisa lepas dari ketergantungannya kepada tengkulak tersbut.


"Kami harap ada bantuan bunga yang lebih ringan daripada sekarang. Kalau memang tidak ada bunganya itu jauh lebih bagus. Supaya kita bisa lepas dari tengkulak," harap Roysdan.

Bukan hanya modal masa tanam saja ungkap Roysdan, untuk pupuk ia juga harus meminjam ke tengkulak yang akan dibayarkan ketika panen dengan hitungan bunga yang berbeda. Bahkan dibanding modal tanam, pembayaran pinjaman pupuk jauh lebih menyulitkkan karena harga yang dipatok di tingkat tengkulak sangat mencekik.

"Beda lagi kalau untuk pupuk. Kalau uang modal dibandingkan dengan ambil pupuk di tengkulak, lebih berat kita di pupuk," ucap Rosydan.

Roysdan biasa mengambil pupuk pada tengkulak sebanyak 10 sak untuk sekali masa panen dengan harga pupuk mencapai Rp150 ribu per sak. Meski harga pupuk yang dijual di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) jauh lebih murah, namun Roysdan pun petani lain terpaksa memilih mengambil pupuk di tengkulak karena bisa dibayarkan setelah masa panen. "Kita mau bagaimana lagi, solusi terbaik kita harus meminjam," jelasnya.


Bukan itu saja, penderitaan mereka seakan lengkap karena tengkulak sering mempermainkan harga dengan mematok harga rendah di tingkat petani dengan alasan harga beras di pasar konvensional menurun. Padahal, faktanya harga di pasaran normal. "Biasanya saya cek langsung harganya di pasar Kota Palu, ternyata tidak ada penurunan harga," ujar Roysdan.

Permasalahan modal inilah yang kerap dihadapi kaum tani. Sebagai solusi dari permasalahan ini, Global Wakaf – Aksi Cepat Tanggap (ACT) menginisiasi program Wakaf Modal Usaha Mikro pada Rabu (19/8) silam. Wakaf Modal Usaha Mikro akan memberikan bantuan penyaluran modal untuk para pelaku usaha kecil, termasuk petani, yang bertujuan untuk membebaskan mereka dari jeratan utang dan riba. Sehingga, proses produksi mereka baik dari hulu maupun hilir, serta transaksi jual-beli lebih berkah.

“Dengan dasar sistem Qardh al-Hasan, Wakaf Modal Usaha Mikro memiliki peran dalam membangun komitmen para pelaku usaha penerima modal, sehingga para penerima manfaat senantiasa bertekad dalam membangun bisnisnya untuk lebih maju dan berkembang. Pemberdayaan menjadi hal mendasar demi mendorong turunnya angka kemiskinan,” kata Jajang Fadli selaku Manager Global Wakaf – ACT.

Jajang pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendukung kerja petani. "Bukan cerita baru, kita kerap dengar masih banyak petani yang diberatkan oleh pinjaman berbunga. Kami berharap, dengan semangat kedermawanan, kita bisa menopang petani sebagai salah satu produsen pangan dan penjaga negeri," harap Jajang. []