Rumah Dihancurkan Israel, Salama Menderita di Musim Hujan

Serangan zionis Israel telah menghancurkan hampir separuh rumah Salama. Air dan udara dingin merangsek masuk setiap musim hujan.

Palestina
Salama bersama kedua cucunya di dalam rumahnya yang telah hancur sebagian. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Serangan pesawat tempur zionis Israel ke Gaza pada Mei lalu menyebabkan ribuan bangunan tempat tinggal warga Gaza rusak. Termasuk rumah Salama, seorang janda lanjut usia yang tinggal bersama anak dan dua cucunya.

Sebagian besar dinding dan rumah salama hancur. Kondisi ini menjadi bencana bagi Salama dan keluarga ketika hujan datang. Air hujan kerap masuk ke rumah. Udara dingin malam menusuk penghuninya. Api unggun yang dinyalakan di dalam rumah tidak mampu menahan dingin. Cucu dari Salama pun sering kali menggigil kedinginan.

Hal ini pun diperparah karena keluarga Salama tidak memiliki perlengkapan musim dingin yang memadai. Salama hanya memiliki selimut tipis yang usang dan satu pakaian hangat untuk cucunya. Kedua cucunya harus bergantian dalam menggunakan satu-satunya jaket yang mereka punya.

Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response ACT yang menerima laporan soal keluarga Salama menjelaskan, jangankan untuk merenovasi rumah yang hancur, untuk sekadar membeli satu pakaian hangat pun mereka tidak mampu.

Permasalahan pun bukan hanya di suhu dingin, rumah Salama yang terbuka, membuat banyak serangga dapat dengan mudah masuk ke rumah. Salah satu cucu Salama yang sedang sakit kronis dan berbaring di kasur tipisnya sering dikerubungi lalat yang berasal dari luar rumah.

"Masih banyak keluarga lainnya di Gaza yang senasib dengan Salama. Mereka saat ini sangat bergantung terhadap bantuan masyarakat internasional untuk bisa bertahan hidup," pungkas Firdaus.[]