Rumah Terpal Menemani Warga Cipandawa Nyaris Setahun Pascabencana

Ekonomi yang melemah disambut pandemi Covid-19 membuat warga di Blok Cipandawa masih bertahan di tenda pengungsian. Mereka tinggal seadanya, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota.

Rumah Terpal Menemani Warga Cipandawa Nyaris Setahun Pascabencana' photo
Salah satu sudut di Blok Cipandawa, Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Bogor, Ahad (29/11). Perkampungan ini menjadi rumah baru bagi penyintas bencana longsor sejak awal tahun 2020. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BOGOR – Area berbukit di Blok Cipandawa, Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, saat ini dipenuhi rumah-rumah semi permanen. Bangunan itu milik warga Kampung Rancanangka, Desa Cileuksa, yang harus pindah dari asalnya karena masuk zona merah bencana. Nyaris satu tahun warga penyintas longsor hidup dengan kondisi tempat tinggal tidak layak. 

Banjir dan tanah longsor yang menghantam Rancanangka awal tahun ini menjadi titik awal pindah seluruh warganya. Tenda terpal khas pengungsian menjadi tempat bernaung mereka berminggu-minggu sebelum adanya bantuan hunian sementara.

Kehadiran huntara pun tidak sepenuhnya menjadi solusi. Bagi warga, huntara yang terbangun kurang layak untuk ditempati. Sejak April lalu, dengan kondisi ekonomi yang terbatas, warga mulai membangun hunian permanen di area Blok Cipandawa.

“Ya rumahnya begini adanya, yang penting ada tempat tinggal yang lebih layak dibanding di pengungsian atau huntara,” ungkap Maman Suparman, warga Blok Cipandawa sambil menunjukkan bagian kiri dan kanan dari rumah semi permanennya yang masih ditutupi dengan terpal, Ahad (29/11). Bagian tersebut merupakan dapur dan tempat untuk mencuci.


Rumah di Cipandawa, Bogor yang sebagian sisinya masih menggunakan terpal. Kehidupan seperti ini nyaris satu tahun dijalani warga pascabencana. (ACTNews/Eko Ramdani)

Tidak semua warga memiliki rumah semi permanen seperti Maman. Ada juga yang membuat hunian dari terpal dan bambu, bergantung kemampuan ekonomi masing-masing. 

Bencana pun sempat kembali datang beberapa bulan lalu. Kali ini ialah puting beliung yang merusak puluhan rumah serta bangunan musala yang sebagian besar bangunannya masih menggunakan terpal.

“Beberapa bulan lalu ada angin kencang, ngerusak rumah yang bagian terpal. Ini aja ruang untuk nyuci rusak kebawa angin. Kalo warga yang rumahnya benar-benar rusak, sementara tinggal di huntara,” cerita pengajar di MI Al-Hidayah, satu-satunya sekolah di Cipandawa, itu.

Ingin normal kembali

Warga Rancanangka seakan sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah duka bencana alam ada Maret lalu, saat ini mereka harus merasakan dampak pandemi. Ekonomi dan pendidikan pun belum bisa pulih. Mereka juga sempat dilarang keluar dari perkampungan demi menjaga dari bahaya virus Corona.

“Walau di sini enggak ada kasus positif, tapi kami ngerasain efeknya. Yang pada mau merantau ke kota buat cari uang tambahan dilarang, kegiatan sekolah juga enggak boleh tatap muka, sedangkan fasilitas untuk belajar jarak jauh belum memadai,” lanjut Maman.

Kini, hidup normal menjadi harapan besar warga Cipandawa korban terdampak bencana di Kabupaten Bogor. Mereka saat ini sedang menata ulang kehidupan dengan kemampuan yang terbatas. 

Sejak bencana terjadi, ACT telah mengirimkan bantuan pangan serta tim tanggap darurat. Tim ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia menjadi salah satu tim awal yang berhasil mencapai Cileuksa dengan menembus medan yang berat. Hingga kini pun pendampingan terus dilakukan, baik untuk pemulihan ekonomi hingga pendidikan.

“Salah satu yang menjadi fokus kami ialah membangun pendidikan yang layak bagi anak-anak Cileuksa. Tiga ruang untuk MI Al-Hidayah telah terbangun, guru-guru juga telah kami dampingi melalui program Sahabat Guru Indonesia. Ke depan, akan tersalurkan berbagai bantuan lain dengan dukungan masyarakat,” ungkap Khisnul Khasanah dari tim ACT Bogor.[]

Bagikan

Terpopuler