Rupanya Beras pun Menjadi Makanan Pokok di Somalia

Rupanya Beras pun Menjadi Makanan Pokok di Somalia

ACTNews, JAKARTA - Apa yang pertama kali terbersit dalam pikiran ketika mendengar krisis Kelaparan di Somalia?

Bisa jadi sebuah pertanyaan tentang, mengapa kelaparan bisa terjadi di abad serba modern seperti sekarang ini? Atau mungkin juga tentang pertanyaan paling mendasar, mengapa mereka di sana sampai tak mampu mendapatkan makanan sama sekali? sebetulnya apa sih yang dimakan oleh orang-orang Somalia?

Secara geografis bentangan peta, Somalia memang jauh sekali dari Indonesia. Terbentang luas Samudera Hindia yang menjadi batas alam mahabesar dua negeri segaris lurus Khatulistiwa ini. Bahkan meskipun Wikipedia atau mesin hebat Google sudah melekat dalam rutinitas sehari-hari, tetap saja Somalia itu “jauh” dari benak orang-orang Indonesia.

Dari sekian hal tentang Somalia yang diketahui oleh orang Indonesia, sedikit sekali yang bisa dipahami lebih jauh, apalagi sampai menjadi kesadaran kolektif publik di Indonesia. Mungkin hanya sebatas fakta tentang Somalia yang mayoritas Muslim, Somalia yang gersang, Somalia yang berada di ujung paling Benua Afrika.

Atau mungkin yang paling ekstrem tentang Somalia yang penuh dengan kisah perompak. Ya, bahkan sampai dibuatkan filmnya oleh Hollywood dan diputar di jejaring layar lebar di Indonesia. Film yang bercerita tentang Perompak Somalia yang berhadapan dengan Kapten Kapal berkebangsaan Amerika.

Maka dari itu, ketika kasus kelaparan Somalia merebak, pertanyaan-pertanyaan paling mendasar jelas merebak. Tanda tanya yang wajar, sebab publik di Indonesia mencoba untuk memastikan, apa yang sesungguhnya terjadi di Somalia?

Menjawab tanda tanya itu, ACTNews secara khusus berbincang dengan Muhamed Mohamud Hassan, seorang lelaki asal Somalia, lahir di Somalia, dan besar di Somalia. Lalu kemudian menemukan jalan rezekinya di Indonesia, hingga beristri Orang Indonesia. Kini Muhamed menetap di Jakarta, dan memegang Kartu Tanda Penduduk wilayah Jakarta.

Dari Muhamed, ACTNews mendapatkan sudut pandang yang lebih luas dan jelas, tentang kasus kelaparan yang sedang membelit tanah kelahiran Muhamed.

 

Beras pun menjadi makanan pokok di Somalia

Muhamed membuka ceritanya tentang beras. Makanan pokok yang ditanak hampir di seluruh dapur orang Indonesia. Dari Muhamed, ACTNews mendapat satu kenyataan, bahwa sebenarnya beras pun menjadi makanan pokok yang juga selalu ada di atas piring orang-orang Somalia.

“Saya bisa bilang nasi adalah makanan nomor satu di Somalia. Orang Somalia memang pagi jarang makan nasi, tapi di waktu siang, nasi adalah makanan utama untuk seluruh Orang Somalia,” ungkap Muhamed.

Muhamed Mohamud Hassan, WNI asal Somalia. Lahir dan besar di Somalia. Kini beristri Orang Indonesia dan tinggal di Jakarta

Dari penuturannya, Muhamed berkata di pagi hari Orang Somalia sarapan dengan sejenis makanan bernama Anjero. Bentuknya seperti roti, bahan baku utamanya dari jagung. Dibikin menjadi tepung jagung, lalu diolah menjadi seperti roti tipis bundar, dan disajikan dengan digulung-gulung. Kemudian siang hari Orang Somalia makan nasi. “Kalau malam bisa nasi lagi, atau jagung, atau sejenis makaroni rebus,” katanya.  

Bedanya satu, jika di Indonesia nasi masih ditambah dengan pelengkap sayuran atau lauk daging dan telur, di Somalia tak sampai selengkap itu. Muhamed bertutur, tanah kelahirannya betul-betul gersang, sayuran hijau hampir mustahil didapat.

“Orang Somalia makan nasi dicampur dengan susu menjadi seperti cereal. Atau nasi dicampur minyak, atau kacang, atau dengan jagung dan gula. Walaupun ngga ada kelaparan seperti sekarang, di beberapa Provinsi di Somalia mustahil ada sayur,” kata Muhamed.

Lantas, mengapa beras atau nasi menjadi makanan pokok yang sama di Somalia dan Indonesia? Muhamed berargumen bahwa iklim tropis yang sama antara Indonesia dengan tanah kelahirannya menjadikan selera makanan orang Somalia hampir sama dengan Indonesia.

Lalu kemudian, ketika beras mudah sekali ditemukan di Indonesia yang subur luarbiasa ini, mengapa beras juga tak mudah ditemukan di Somalia?

Muhamed mengenang, dulu negerinya pernah punya sawah-sawah hijau yang bisa dipanen menjadi gabah, kemudian menjadi beras, dan ditanak jadi nasi. “Tapi setelah krisis kekeringan bertahun-tahun, sawah untuk beras tidak ada. Semua beras di Somalia sekarang diimpor. Kekeringan berpuluh-puluh tahun di Somalia buat mati semua pertanian dan peternakan,” ujarnya.

Pertemuan Muhamed dengan ACTNews di pekan pertama April lalu rupanya hanya berselang 40 hari setelah Muhamed pulang ke kampungnya di Mogadishu, Somalia. Dalam perjalanannya itu, Ia bisa menjelaskan alasan mengapa kekeringan di Somalia tahun 2017 ini akhirnya berdampak demikian parah.

Kering dan tandus akhirnya mewabah, meluas tanpa ada tanda-tanda hujan sama sekali. Ketika air bersih makin langka, ternak perlahan mati, rumput pun kering dan habis tidak bersisa. Semua orang di kampung hanya beternak, hewan ternak mereka pun mati, mereka tak lagi punya uang, bahkan sekadar untuk menjamin mau makan apa esok hari. Begitu serangkai kronologi krisis kelaparan yang bisa dirangkum ACTNews dari cerita Muhamed.

“Jauh di kampung-kampung Somalia, mereka kerjanya hanya urus hewan ternak. Kalau ternak mereka mati, apa mereka punya uang? Mereka lari ke luar kampung mencari apapun, air minum, makanan, pekerjaan. Ke tempat yang ada air, atau ada keluarga atau saudara yang bisa menampung dan memberikan makan. Berjalan terus mencari makan. Kalau tidak ada saudara mereka terpaksa tinggal d kamp, membuat tenda-tenda di pinggiran kota,” tuturnya.

Muhamed menemukan kisah dengan mata kepalanya sendiri bahwa ada banyak keluarga di Baidoa, sekira 244 kilometer dari Mogadishu, terpaksa berjalan kaki ratusan kilometer demi menemukan makanan dan air.

“Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan selain memberikan makan. Kalau Indonesia bisa kirimkan 1000 ton beras saja itu sudah sangat besar, bisa diterima oleh banyak sekali keluarga untuk makan satu bulan ke depan” ungkap Muhamed.

Di ujung obrolan, Muhamed menyampaikan satu pesan tentang bangsanya yang sedang dirundung kelaparan.

“Yang saya mau bilang, saudara di Indonesia tidak boleh sedih. Walaupun Somalia sedang menghadapi masalah sebesar itu. Iman mereka masih kuat. Masih percaya diri. InsyaAllah masalah kelaparan ini bisa lewat. Ada seorang Ibu yang suaminya meninggal karena lapar, anaknya meninggal karena sakit kolera, dia memang sedih. Tapi secara umum mereka hatinya masih kuat. Orang Somalia diajarkan untuk tidak boleh sedih,” pungkas Muhamed menutup ceritanya.

Ketika Beras pun menjadi makanan pokok untuk Somalia, tunggu apalagi untuk bergerak membantu?

 

Sebutir demi sebutir beras kita himpun. Sekepal demi sekepal beras kita satukan, hingga sekapal. 

Kita hidupkan kembali harapan hidup. Jangan biarkan mereka mati karena hati kita mati.

Hari ini kita menyelamatkan. Esok kita terselamatkan.

Hari ini kita memberi. Allah akan mencukupi.

Tag

Belum ada tag sama sekali