Saat Kekeringan, Sebagian Petani di Dusun Randusari Alih Profesi

Warga Padukuhan Randusari, Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, mayoritas bekerja sebagai buruh tani. Namun di saat musim kemarau, beberapa dari mereka terpaksa pergi ke kota dan bekerja sebagai buruh bangunan sebab ketiadaan air untuk menggarap sawah.

Kebanyakan warga Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, merupakan buruh tani yang menggarap lahan orang lain. (ACTNews)
Kebanyakan warga Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, merupakan buruh tani yang menggarap lahan orang lain. (ACTNews)

ACTNews, GUNUNGKIDUL – Padukuhan Randusari di Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, adalah dusun dengan mayoritas warga bekerja sebagai buruh tani yang mengelola sawah atau ladang orang lain.

Namun, desa dengan potensi agraria ini justru kesulitan air. Pada tahun 2020 lalu misalnya, hampir setengah tahun warga menghadapi kekeringan. “Petani di desa ini tidak dapat bekerja lebih dari enam bulan sehingga banyak yang beralih profesi menjadi buruh bangunan di kota ketika musim kemarau,” ujar Moch Nurul Ramadhan dari Tim Global Wakaf-ACT pada Jumat (30/4/2021) ini.

Sumber air di dusun ini mengandalkan sumur dangkal sedalam 15-20 meter yang mudah kering saat kemarau. Selain itu juga ada PAM yang mengalir ketika musim penghujan, namun ketika musim kemarau air dari PAM tidak berjalan dengan normal.


Seorang warga memanfaatkan air dari Sumur Wakaf di Desa Watusigar. (ACTnews)

“Sebagian warga lagi juga mengandalkan Sungai Oya yang membelah Desa Watusigar untuk sawah dan ternak, tetapi sungai ini ikut mengalami kekeringan. Jalan terakhir, warga harus mengeluarkan Rp200 ribu-Rp500 ribu per bulannya untuk mencukupi kebutuhan air bersih ketika kekeringan melanda,” kata Nurul.

Menurut Nurul, kebutuhan sumur untuk masyarakat secara umum sangat mendesak saat ini. Global Wakaf-ACT berikhtiar membantu warga melalui program Sumur Wakaf. Sumur dengan kedalaman 75 meter pun dibangun di desa tersebut untuk memenuhi kebutuhan harian, pertanian, bahkan kebutuhan ibadah warga.


“Sumur Wakaf ini dibangun di atas tanah yang diwakafkan juga oleh seorang warga bernama Bapak Sukiman. Sumur ini akan dibangun di dekat bak penampungan milik warga dengan kapasitas 20 ribu liter air. Bak penampungan juga sudah memiliki instalasi yang langsung mengalir hampir ke semua ke rumah-rumah milik warga. Sampai saat ini, Sumur Wakaf masih mengalir lancar, memberikan manfaat di Dusun Randusari,” harap Nurul.

Joko Susilo salah seorang warga berterima kasih dengan hadirnya Sumur Wakaf ini. “Selama ini kami selalu kesulitan air, baik musim kemarau atau penghujan. Alhamdulillah, semoga Sumur Wakaf dari Global Wakaf-ACT bisa menjadi sumber air yang bermanfaat dan awet untuk warga Dusun Randusari,” harapnya.[]