Saat Nabi Ibrahim Harus Melepas Apa yang Ia Sayangi

Ketika mendapatkan anak pada usia senja, Nabi Ibrahim justru harus melepaskan putranya, Nabi Ismail atas perintah Allah. Perintah ini merupakan sebuah simbol umat Islam untuk melepaskan dan mengorbankan dengan ikhlas apa-apa saja yang berharga untuk kita.

Allah mengganti Nabi Ismail dengan kambing atau gibas, yang kemudian menjadi syariat penyembelihan kambing setiap kurban. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA – Saat itu Nabi Ibrahim sudah lanjut usia, namun ia belum juga dikarunai seorang anak. Mendamba buah hati, ia berdoa kepada Allah agar dikarunai seorang anak. Allah kemudian langsung mengabulkan doa hamba-Nya itu lewat kehamilan Siti Hajar. Kejadian itu diabadikan dalam Surah As-Saffat dalam Alquran.

“’Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.’ Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).” demikian tertulis di Surah As-Saffat ayat 100-101.

Syekh Ahmad Al Misri menyakini saat itu usia Nabi Ibrahim telah masuk kepala 9. Menunggu sekian lama, tentu Nabi Ibrahim sangat mencintai anaknya. Tetapi kemudian kehadiran Ismail yang kelak juga menjadi seorang nabi, menyibukkan Nabi Ibrahim. Allah kemudian memberikan ujian kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, satu-satunya penghibur hati Nabi Ibrahim yang ia sayangi. Sejatinya kata Syekh Al Misri, ini juga sebagai pelajaran kepada umat manusia.

“Maka Allah memberi isyarat kepada kita. Kadang-kadang Allah memberi nikmat kepada kita, sehingga kita sibuk dengan nikmat, dan kita lupa dengan Sang Pemberi Nikmat. Banyak sekali yang diberi jabatan, diberi harta, diberi apa pun, kemudian dia sibuk dengan nikmat,” jabarnya dalam helatan Munajat Dzulhijjah yang disiarkan langsung oleh Global Qurban – ACT pada Sabtu (25/7) lalu.


Syekh Ahmad Al Misri sedang menceritakan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. (ACTNews)

Karena Nabi Ibrahim mulai sibuk, maka Allah ingin mengeluarkan syahwat itu dari dalam hatinya. Bahkan menurut Syekh Al Misri, perintah menyembelih Nabi Ismail bahkan tidak datang melalui wahyu, tetapi Nabi Ibrahim diuji lebih berat lagi melalui mimpi.

Setelah berdiskusi dengan Nabi Ismail, mereka kemudian setuju untuk melaksanakan perintah kurban itu. Ketika hendak disembelih, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing. Syariat kurban inilah yang kemudian diturunkan kepada umat-umat selanjutnya.


Kata Syekh Al Misri kemudian, syariat kurban ini bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tapi merupakan simbol sebuah pengorbanan terhadap hal-hal buruk yang dikerjakan manusia. “Maka banyak hal yang bertentangan dengan Allah harus kita kurbankan, harus kita lepas. Ada riba, lepas. Ada hal-hal buruk, lepas. Itulah pengorbanan yang sebenarnya bukan sekadar sembelihan. Itu hanya simbol,” jelasnya.

Simbol ini dalam kisah Nabi Ibrahim adalah anak yang sudah lama ia dambakan. Ketika sedang sangat sayang kepada anaknya, justru Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk segera melepaskan anaknya tersebut. Meskipun begitu, ia ikhlas menjalankan perintah Tuhannya. Sikap dan pengorbanan inilah menurut Syekh Al Misri mesti dicontoh oleh umat-umat kini dan selanjutnya.

“Maka berkurbanlah. Atau sebelum kita berkurban dengan menyembelih hewan, kita harus mengorbankan jiwa kita dan harta kita di jalan yang diridai Allah SWT,” tutupnya. []