Safari Kemanusiaan (2) Bertemu Sebab Keselamatan Indonesia

Safari Kemanusiaan (2) Bertemu Sebab Keselamatan Indonesia

Safari Kemanusiaan (2) Bertemu Sebab Keselamatan Indonesia' photo

Ahyudin

Presiden ACT

Tanggal 3 Juni 2017, menjadi hari bersejarah kiprah ACT. Inilah hari di mana seribu ton beras yang dikirim masyarakat Indonesia lewat program "Kapal Kemanusiaan" menunjukkan multiperannya, tak cuma menyapa kelaparan Afrika, juga piranti diplomasi kemanusiaan di tengah krisis dunia. Ini juga kali pertama dalam sejarah ACT, bantuan kemanusiaan disambut haru dan pengharapan besar Pemerintah Somalia, selain luapan do'a untuk kejayaan bangsa Indonesia. Saya melaporkan ini dengan batin bergetar, tak malu saya katakan, kami semua dari Indonesia, menjadi cengeng. Mata kami sembab, ucapan kami terbata-bata dilibas haru.

Teriknya udara di luar, seolah sirna. Aura keakraban bagai saudara yang menyambut setelah lama tak bersua.  Pemerintah Somalia, jauh-jauh hari melalui kedutaannya di Jakarta, menyampaikan, pihaknya akan menyambut "Kapal Kemanusiaan" dari Indonesia dan berharap bisa bersua dengan ACT. Ini sebuah kehormatan, spirit kemanusiaan bagi lembaga kemanusiaan yang dibangun putra-putri Indonesia dan disokong rakyat Indonesia.

Di depan Pemerintah Somalia yang menyambut "Kapal Kemanusiaan", saya katakan, “Kami datang mewakili unsur masyarakat dan bangsa Indonesia. Program yang kami bawa ini, ingin memberi pesan kepada pemangku pemerintahan di Indonesia bahwa sesungguhnya urusan menggugah nurani bangsa itu menjadi tugas negara, sedangkan urusan untuk memikirkan masalah manusia di belahan dunia lain, selayaknya juga menjadi tanggungjawab bersama. Termasuk keinginan untuk menggugah para aghniya, kaum berpunya,  yang berada di negeri kami."

Sampai di situ perasaan saya berkecamuk. Kembali, haru menyelinap. Kalimat itu disimak betul oleh para pemangku pemerintahan Somalia. Saya coba meneruskan, "Banyak sekali muslimin Indonesia menangisi penderitaan saudaranya di Afrika, termasuk Somalia ini. Semoga rakyat Somalia juga mau mendoakan kami, bangsa Indonesia, agar mampu menjadi bangsa yang kuat, sekuat bangsa Somalia. Menjadi bangsa yang selalu peduli dengan nasib saudara-saudaranya di belahan dunia lain, terutama di Somalia.

Sudah 7 tahun terakhir ini ACT berkhidmat untuk rakyat Somalia. Bantuan seribu ton beras dari rakyat Indonesia semoga benar-benar dapat menghibur hati saudara kami di Somalia. Mohon doakan juga, mewakili bangsa Indonesia, agar kami memiliki perhatian lebih untuk saudara-saudara di Somalia." Di sini, saya mulai terbata-bata.

Buat saya, seribu ton beras memang sangat menolong rakyat Somalia, tapi di bulan Ramadhan ini, doa-doa tulus rakyat, pemerintah juga ulama Somalia, sungguh tak ternilai bagi bangsa Indonesia. Saya haqqul yakin,  doa-doa merekalah salah satu penyebab keselamatan Indonesia dari semua ancaman, perusakan dan penguasaan musuh-musuh kebaikan. Kalau doa orang-orang saleh saja bisa dikabulkan, lebih-lebih doa banyak orang saleh yang sedang bersyukur, telah menjalani cobaan hidup yang berat, di bulan Ramadhan!  Ini luar biasa menggetarkan. 

Meski jauh dari kemegahan fisik sebuah sambutan Pemerintah, saya merasakan "kemewahan spiritual". Saya amat terkesan dengan penerimaan dan sosok-sosok tuan rumah yang rendah hati dan hangat. Jujur, ini buat saya, malah serasa berada sebuah taklim, ketika mendengar mereka saling bersuara. Penerjemah kami,  Safiya, gadis cerdas asli Somalia yang pernah kuliah di Jakarta dan fasih berbahasa Indonesia, amat menolong saya menangkap lebih utuh suasana lahir-batin pejabat-pejabat itu. Ini ekspresi tulus setelah mereka mengalami sejarah panjang berinteraksi dengan krisis dan badan-badan dunia. Saya tidak yakin, penerimaan mereka akan sama ketika misalnya yang datang adalah NGO Barat. Atau mungkin jika kita yang berada dalam posisi mereka, pastilah dengan jumawa dan sangat birokratis penerimaannya.

Meeting Formal yang Cair

Saya perlu ceritakan,  bagaimana "hospitality meeting" ACT dengan Komite Nasional untuk Bencana Kekeringan Somalia, yang berlangsung akrab di hotel Al-Jazeera jelang berbuka puasa. Kedua pihak memulai pertemuan dengan berbuka puasa bersama. Menu kurma, pai, pastel Somalia menjadi menu berbuka. 12 orang yang hadir, mengatasnamakan Komite, terdiri dari unsur ulama yang merupakan ulama senior Somalia, ada Sheikh Bashir Ahmad Salad yang datang mewakili Sheik Noor, ulama paling dihormati di Somalia yang sedang mukim ke Nairobi selama Ramadhan ini, ada juga Sheik Yusuf Ali Aynte, Head of Somali Islamic Scholar Convention - semacam MUI di Indonesia.

Kemudian ada yang mewakili pengusaha Somalia (yang juga menjadi bagian dari Komite), serta beberapa Kepala Pemerintahan Provinsi (Region). Yang mengejutkan, acara ini dihadiri Menteri Kebencanaan Nasional, sebuah Kementerian baru yang dibentuk oleh presiden dan pemerintah baru hasil pemilu Februari lalu.

Tokohnya, Dr. Mariam Kasim, Obgyn.Med., MBH (69), seorang tokoh pembaruan, aktivis pendidikan dan pemberdayaan yang cukup dihormati orang Somalia dari karya dan sumbangsihnya untuk dunia pendidikan. Ia pernah membuat satu program monumental bernama ‘Somalia Goes to School”, ini program pemberian akses bersekolah gratis bagi anak-anak Somalia.

Sejak hadirin berkumpul, sampai kemudian sesi perkenalan berlangsung, kami tak mengira pertemuan berlangsung sangat cair penuh persaudaraan, meskipun di antara kami ada seorang menteri.  Saya melihat,  Mariam Kasim sosok Menteri yang sungguh bersahaja dan rendah hati. Saat berbicara, tampak betul bobot pengetahuan, wawasan keagamaan serta keluasaan ilmunya.

Mariam mengungkap, bencana Somalia, hal yang patut diinsyafi sehingga bisa menjadi titik-balik perbaikan negeri. Konflik antar anakbangsa, disusul bencana kekeringan dan kelaparan panjang, bukan hal yang tak berhubungan. Pandangan Mariam, mengingatkan saya nasib Indonesia, semoga kita tak ditimpa krisis yang "diundang" ulah bengal manusia, wabil khusus orang-orang yang mengkhianati amanah. Mariam menyambut hangat ACT, wakil rakyat Indonesia, dan mengatakan, "Somalia adalah juga negeri Anda." Ia senang, ACT hadir dan menjadi kawan dalam kesulitan, dan kawan dalam membangun kembali Somalia.

 

Lagi,  Nama Sukarno Disebut

Laiknya pertemuan persaudaraan, keterbukaan mewarnai paparan demi paparan. Seolah ACT benar-benar bagian dari masyarakat Somalia. Sheik Yusuf Ali Aynte (72), tokoh alim Somalia mengungkapkan, sejauh ini Komite telah memiliki sejumlah dana dari donasi diaspora Somalia di luar negeri, maupun dari kalangan berpunya di dalam negeri sendiri.

Selama ini, sejak Januari lalu, dana donasi itulah yang Komite gunakan untuk mengatasi masalah kekeringan dan kekurangan pangan ini. "Dan saat kami dengar ada bantuan beras 1000 ton dari rakyat Indonesia, kami senang sekali. Kami berterima kasih sekali atas  bantuan dari rakyat Indonesia ini. Saya tahu bagaimana sejarah hubungan Indonesia dengan Somalia, kami tahu Presiden Sukarno yang mengajak Afrika untuk bangkit bersama Asia. Jadi sesungguhnya kita sudah bersahabat dan bersaudara cukup lama,” katanya.

Ungkapan itu seperti "Kado Milad Pancasila" yang diperingati setiap 1 Juni, yang tentu menyebut nama Sukarno. Pancasila, dengan dimensi ketuhanan, spiritualitas melambari kebangsaan dan kenegaraan, hari ini diekspresikan ACT di Afrika, kawasan yang masih dilibas krisis, dan mereka masih ingat Sukarno, masih ingat persaudaraan lama itu, saat kami semua menjalani puasa.

Kuat, kental, nuansa peribadahan di setiap langkah kami. Ungkapan positif sahabat dan saudara Somalia ini menyemangati. Rasanya, terbalik, bukan ACT yang menyemangati dan menghibur, justru merekalah,  sikap-sikap bijak dan santun mereka, yang menyuntikkan semangat bagi kami.

Abdirahiim Isa Adoo (44), Kepala Informasi Komite, mengungkap perasaannya. “Kami takkan melupakan kemurahan hati rakyat Indonesia. Sesungguhnya kami memiliki sejarah kemurahan hati ini. Pernah dulu masalah kekeringan ini juga muncul di Somalia, ada satu wilayah di sini yang dikenal sebagai sentra penghasil peternakan kemudian warganya menyumbangkan ternaknya untuk saudaranya yang sedang mengalami masalah kekurangan pangan.” Jelas, jejak kebaikan itu perlahan muncul, menjadi pertanda perbaikan Somalia kian nyata.

Abdi Ali Farah (50), CEO Juba Group of Companies & Anggota Komite, angkat bicara. Pengusaha Somalia ini mengatakan, “Terima kasih sudah datang. Kalau biasanya saat Ramadhan, orang-orang memilih berkumpul bersama keluarganya saja, Anda semua justru hadir ke sini untuk bersilaturahmi dan menengok saudara-saudaranya di Somalia ini. Kami tahu, Indonesia adalah ‘ibu dari negeri-negeri muslim dunia’, posisi Indonesia selalu menjadi harapan dan andalan bagi negeri muslim lainnya."

Ini luar biasa, sangat menyanjung Indonesia, bahkan membuat kami malu, kalau sudah disandangi predikat hebat tapi ternyata tidak mampu benar-benar hebat dalam membantu mereka. Ini tantangan menyeriusi Somalia.

Abdu Ali Farah meneruskan, "Bayangkan kalau saja setiap muslim di Indonesia, yang berjumlah 250 juta orang itu, berdonasi $1 saja, berapa banyak donasi rakyat Indonesia yang bisa digunakan untuk membantu sesama saudaranya di belahan dunia lain?"  Sangat memotivasi. Ia tak hanya melontarkan wacana. "Kami siap membantu dan membersamai ACT untuk masalah kekeringan dan kekurangan pangan ini, bahkan dalam aspek bisnis sekalipun. Kami akan berdiri bersama ACT," ungkapnya serius.

Ya,  paparan ini memberi motivasi kuat, ACT harus mampu mendampingi pemulihan Somalia. Rencana bersama dibentang, edukasi kemanusiaan pun terus diglobalkan agar kian banyak tangan terulur, kian banyak hati peduli, wujud rasa syukur karena nasib bangsa dan negeri kita jauh lebih baik dari mereka.

Terlebih, bagi Indonesia, di Somalia kami temukan salah satu sebab peneguh keselamatan bangsa dan negeri Indonesia: rasa syukur dan doa tulus mereka saat menerima bantuan pangan dari Indonesia.

Ramadhan mubarak ini, mari, jangan ragu menambah resonansi kekuatan penyelamat negeri: bantu rakyat Somalia terbebas dari krisis kemanusiaan. []

Tag

Belum ada tag sama sekali