Sahabat Guru Indonesia Sapa Pendidik di Tengah Pandemi

Di tengah pandemi, guru honorer sangat rawan masuk ke jurang kemiskinan. Sebagai pejuang pendidikan, mereka pun perlu mendapatkan perhatian. Global Zakat - ACT sejak November 2019 lalu hingga kini terus mengalirkan kebaikan dari masyarakat untuk guru-guru di seluruh penjuru negeri ini.

Sahabat Guru Indonesia Sapa Pendidik di Tengah Pandemi' photo
Elis Hasanah, guru honorer asal Tasikmalaya, saat menerima biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia. (ACTNews/Rimayanti)

ACTNews, TASIKMALAYA – Apresiasi atas peran guru honorer terus diberikan Global Zakat - ACT. Rabu (15/7) lalu, melalui program Sahabat Guru Indonesia, Global Zakat - ACT menyalurkan biaya hidup bagi 50 guru di Tasikmalaya. Penyerahan bantuan tersebut dilakukan di Kantor Cabang ACT Tasikmalaya. Bantuan hidup untuk guru di Tasikmalaya ini bukanlah yang pertama kali, akan tetapi sudah kesekian kali demi memperbaiki kondisi ekonomi guru prasejahtera.

Elis Hasanah merupakan salah satu guru yang mendapatkan bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia. Guru yang telah mengabdi 15 tahun lamanya di salah satu taman kanak-kanak di Tasikmalaya ini memiliki pendapatan Rp500 ribu per bulan. Angka tersebut hanya naik Rp350 ribu dibandingkan gaji pertamanya belasan tahun lalu.

“Gaji didapat dari bayaran anak murid. Tapi kalau murid sedang libur, guru juga tidak dapat pemasukan apa-apa,” ungkap Elis, Rabu (15/7).


Abdul Jumarna (20) mengajar kelas 1 dan 2 MIs Cileunjang, Tasikmalaya, Jumat (24/1). Selepas lulus bangku SMA ia memilih mengabdikan dirinya mengajar di sekolah ini. (ACTNews/Eko Ramdani)

Guru honorer kerap terpentok persoalan pendapatan yang rendah. Kabar tentang sulitnya mereka menyambung kehidupan seakan menjadi kewajaran. Dengan rendahnya gaji, mereka harus menghidupi keluarga dan harus tetap mengajar anak murid untuk meraih cita-cita. Hal itu lah yang ACTNews temukan tiap kali menemui guru-guru honorer di berbagai pelosok negeri.

Muhammad Kamaludin, guru MIs Cileunjang kelas jauh di Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu guru yang ACTNews temui awal tahun 2020 lalu. Lokasi sekolah yang berada di puncak bukit serta di kelilingi kebun teh dan jalan yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua yang diberi rantai menjadi tempat Kamal mengajar. Sejak 2014 lalu, ia mengabdi di sekolah ini dengan gaji kurang dari Rp1 juta per bulan.

Kamal merupakan satu dari sekian banyak guru honorer yang mengabdi untuk pendidikan Indonesia. Gaji mereka memang rendah, namun semangatnya untuk membantu anak murid menggapai cita-cita yang sangat tinggi. “Setiap dapat duit, sebagian selalu disisihkan buat modal bangun sekolah ini (MIs Cileunjang),” tutur Kamal yang merupakan salah satu perintis sekolah di pedalaman Kabupaten Tasikmalaya tersebut.

Permasalahan kesejahteraan guru honorer masih menyumbang angka kemiskinan di Indonesia. Dilansir dari Katadata, jumlah guru yang non-PNS hingga Januari 2020 mencapai 937.228. Angka tersebut tentunya juga diisi oleh guru-guru yang ekonominya masih prasejahtera. Di tengah wabah Covid-19 pun, guru menjadi pihak yang sangat rentan masuk dalam golongan warga prasejahtera. Pikiran Rakyat pada 7 April 2020 lalu mempublikasi di wilayah Kabupaten Bandung Barat terdapat beberapa golongan yang rawan prasejahtera. Ojek pangkalan, petani, usaha mikro serta guru honorer yang sangat rentan miskin akibat pandemi.

Global Zakat - ACT sendiri telah memulai aksi Sahabat Guru Indonesia sejak Hari Guru Nasional November 2019 silam. Rekapitulasi hingga akhir Juni 2020 lalu, sudah ada hampir 5.000 guru di 435 desa di seluruh Indonesia yang menerima bantuan biaya hidup. Dana yang kucurkan berasal dari zakat masyarakat yang disalurkan melalui Global Zakat. “Penyejahteraan guru menjadi salah satu fokus Global Zakat, karena masih banyak guru, honorer khususnya, yang perlu dukungan kita semua,” jelas Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia, Riski Andriana, Jumat (17/7). []


Bagikan