Sahrul, Bayi Asal Karawang, Menderita Malnutrisi

Gizi buruk yang dialami Sahrul berawal dari tidak adanya asupan ASI sejak lahir akhir Mei lalu. Hal ini dikarenakan Mimin, ibu Sahrul, harus dirawat kembali usai melahirkan dengan bedah besar (Caesar).

ACTNews, KARAWANG – Mimin (37) segera menyambut kedatangan ACT yang bertandang ke rumahnya di Desa Payungsari, Kecamatan Pedes, Karawang. Dalam gendongan Mimin, Sahrul Ramadan tertidur. Keadaan anak ketiga Mimin itu belakangan menjadi perhatian. Pasalnya, bayi Mimin yang berusia tiga bulan itu didiagnosa mengalami gizi buruk.

Kehadiran tim, Kamis (12/9) siang, bermaksud memeriksa dan menjenguk Sahrul. Dr. Nisrina Fariha dari Tim Global Medical Action – ACT segera memeriksa keadaan bayi dengan berat 3,2 kilogram itu, mulai dari suhu tubuh, lingkar kepala, lingkar badan, dan sejumlah pemeriksaan lainnya.

Gizi buruk yang dialami Sahrul berawal dari tidak adanya asupan ASI bagi bayi yang lahir akhir Mei lalu itu. Mimin, ibu Sahrul, harus dirawat kembali usai melahirkan dengan bedah besar (Caesar). Saat Mimin dirawat selama seminggu, Sahrul tidak mendapatkan asupan asi dan hanya meminum susu formula. Sepulang menjalani perawatan, ASI Mimin tidak dapat lagi berproduksi, sehingga Sahrul tidak lagi mengonsumsi ASI.

“Setelah minum susu formula selama tiga mingguan, Sahrul demam dan dibawa ke rumah sakit. Waktu demam itu pun sudah ada penurunan (berat badan). Sudah minum susu formula kok penurunan (berat badan)? Kemungkinan Sahrul mengalami intoleransi laktosa, tidak bisa minum susu sapi,” jelas dr. Nisrina, Kamis (12/9).

Dalam penanganan saat ini, pihak puskesmas telah memberikan susu formula F100 untuk Sahrul. Dalam sehari, minimal Sahrul harus mengonsumsi delapan sampai sepuluh kali susu F100.


Menurut keterangan keluarga, Sahrul lahir dalam keadaan sehat dengan panjang 49 sentimeter dan berat lebih dari empat kilogram. Sebelumnya, bayi Sahrul telah mendapatkan penanganan rumah sakit dan puskesmas. “Untuk kasus gizi buruk, penanganannya harus bertahap,” lanjut dr. Nisrina. Menurut dr. Nisrina, Sahrul membutuhkan makanan yang tinggi gizi dan seorang pendamping gizi hingga keadaannya membaik.

Sementara itu, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Pedes Kementerian Sosial (Kemensos) Novito Hendra Gunawan mengatakan, pihaknya menghubungi ACT dalam upaya sinergisitas menemukan solusi untuk Sahrul. Menurut Novito, dalam kasus gizi buruk bukan hanya kewajiban pemerintah. Ia berharap masyarakat juga dapat mengambil peran dalam penanganan kasus gizi buruk yang dialami Sahrul. “Peran masyarakat atau unsur NGO yang bergerak di bidang kemanusiaan juga sangat kami harapkan. Dan kami berterima kasih ACT sudah mengirimkan timnya,” ungkap Novito.

Novito menambahkan, keluarga Sahrul telah mendapatkan sejumlah jaminan dari Kemensos. Misalnya saja, bantuan pangan nontunai berupa beras sebanyak 10 kilogram yang diterima setiap bulannya. Namun, pada kasus penanganan gizi buruk yang dialami Sahrul, Novito berharap akan lebih banyak pihak yang memberikan bantuan, khususnya dalam pemenuhan susu formula F100.

Anang (37), ayah Sahrul, sehari-hari bekerja sebagai pedagang sate Maranggi keliling di desanya. Dari usaha itu, Anang mendapatkan penghasilan Rp 60 ribu per hari. Anang mengaku, penghasilan tersebut tentu tidak mencukupi kebutuhan keluarga dan susu anaknya. “Belum lagi motor sudah dijual empat bulan lalu untuk biaya berobat istri dan anak, juga untuk hidup karena empat bulan tidak ada penghasilan,” aku Anang.


Di rumah milik mertuanya, Anang tidak hanya tinggal bersama ketiga anak dan istrinya. Ada dua keluarga atau total 13 penghuni di rumah yang Anang tinggali. “Anak yang pertama sudah lulus SD. Sekarang usianya 18 tahun, dia pergi mengamen keliling kecamatan. Kalau anak kedua baru kelas satu SD,” lanjutnya. Ia pun mengaku hanya bersekolah sampai tingkat SD sedangkan istrinya, Mimin, hanya bersekolah sampai kelas dua SD.

Dari kehidupan yang ia jalani itu, Anang hanya berharap anak ketiganya, Sahrul, dapat bertumbuh dengan baik. “Ingin anak saya sehat, normal, seperti waktu lahir,” doanya. []