Sakit dan Trauma Pengungsi Gunung Agung, ACT Buka Pelayanan Kesehatan

Sakit dan Trauma Pengungsi Gunung Agung, ACT Buka Pelayanan Kesehatan

ACTNews, KARANGASEM - Membaca statistik yang terpampang di lembaran laporan jumlah pengungsi Gunung Agung, setiap harinya masih serupa, terjadi penambahan jumlah pengungsi yang signifikan. Sampai hari ini Senin (4/12) laporan dari Bidang Humas Satgas Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Agung menunjukkan, jumlah pengungsi akibat erupsi Gunung Agung mencapai 60.049 jiwa, tersebar di 214 posko pengungsian.

Statistik pengungsi sebanyak itu, tentu bukan jumlah yang sedikit. Terlebih, sudah berbulan-bulan pengungsi hanya bisa bertahan, menunggu tanpa tahu kapan bisa pulang.

“Semakin hari makin banyak pengungsi yang mengalami kejenuhan, bosan menunggu, apalagi anak-anak. Wajah mereka muram di kamp pengungsian,” kata Kusmayadi, Koordinator Tim Emergency Response Aksi Cepat Tanggap (ACT), melaporkan dari Karangasem, Bali.

Dalam kondisi yang serba sulit, menunggu ketidakpastian dan kejenuhan yang mulai melanda, Tim Emergency Response ACT mencoba hal baru; menghidupkan lagi tawa dan keceriaan anak-anak di kamp pengungsian.

Seperti yang dilakukan Ahad (3/12) kemarin, di Pos pengungsian Pertanian, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Karangasem. Tim gabungan dari ACT dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) regional Bali ikut meramaikan kamp pengungsian dengan permainan-permainan kecil, juga dengan cerita dan dongeng.

Seratusan anak-anak yang sudah menghuni kamp pengungsian selama berbulan-bulan, sejenak diajak melupakan ketakutan dan kebosanan mereka.

“Jangan salah sangka, gabungan Tim Emergency Response ACT tak hanya tangguh di lapangan. Tapi juga bisa mengajak anak-anak di kamp pengungsian ini tertawa lepas. Sejenak mengganti rasa takut dan bosan mereka dengan keceriaan,” kata Kusmayadi.

ACT juga buka pelayanan kesehatan

Selagi mengajak tertawa anak-anak seharian penuh, pekerjaan masih belum selesai. Di sudut lain kamp, masih ada duka, rasa takut, bahkan rasa sakit yang dirasakan ribuan pengungsi.

Kusmayadi menjelaskan, dampak abu vulkanik beberapa hari lalu mulai berimbas buruk bagi pengungsi. Kebanyakan pengungsi mulai diserang gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). “Keluhan pengungsi kebanyakan adalah batuk berat, sampai demam panas tinggi karena paparan abu vulkanik,” jelas Kusmayadi.

Selain itu, beberapa pengungsi pun mengeluhkan kondisi tubuhnya yang mulai melemah, imbas dari kejenuhan dan bosan karena tak melakukan apapun di kamp pengungsi.

“Dari MRI Bali, Ahad (3/12) kemarin mulai menyiapkan aksi pelayanan kesehatan, kami membuka pos pelayanan kesehatan di Posko Pertanian, Desa Menanga, Kecamatan Rendang,” ujar Nyoman Arif, Koordinator MRI Bali.

Tidak hanya aksi pelayanan kesehatan, melengkapi aksi medis di Posko Pengungsian Pertanian, Tim Emergency Response ACT menyiagakan sebuah ambulance, terparkir di halaman depan posko.

“Kehadiran ambulance sangat dirasakan manfaatnya oleh pengungsi di Kamp Pertanian. Beberapa kali ambulance ACT digunakan untuk mengevakuasi warga yang sakit parah ke rumah sakit terdekat,” kata Kusmayadi.

Sampai laporan ini diunggah, kondisi erupsi Gunung Agung memang relatif lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Nyoman Arif melaporkan, abu vulkanik mulai tak terlihat lagi dari puncak kawah.

Namun demikian, status Awas atau level IV masih berlaku penuh, dengan radius zona aman berada di jarak 8-10 km dari puncak kawah.

“Tapi abu vulkanik yang mulai hilang bukan berarti status Awas diturunkan. Ada dua kemungkinan, pertama, erupsi Gunung Agung melemah energinya. Kemungkinan kedua, adanya penyumbatan di mulut kawah Gunung Agung. Kalau ada penyumbatan mungkin bisa terjadi erupsi yang lebih besar,” jelas Kusmayadi. []

Tag

Belum ada tag sama sekali