Salah Kaprah dalam Memberi Asupan Makanan kepada Anak

Pemahaman orang tua terkait "yang penting anak mau makan" perlu dihindari. Hal tersebut bisa berakibat tidak baik terhadap kesehatan anak, baik dalam jangka pendek maupun panjang, jika makanan yang dimakan tidak mengandung gizi seimbang.

anak sedang minum
(Ilustrasi) Anak sedang minum susu.(ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, JAKARTA UTARA – Pengetahuan masyarakat Kamal Muara tentang pentingnya asupan gizi seimbang untuk anak masih minim. Imbasnya dalam praktik keseharian, para orang tua memberikan asupan kepada anak dengan seadanya dan apa yang anak-anak suka. 

Salah satu warga RT 03, RW 04 Kelurahan Kamal Muara, Eliyanti, mengatakan kedua anaknya tidak suka makan sayur. Akhirnya ia memasak apa yang anak-anaknya suka seperti telur balado atau ikan goreng. Selain tidak suka makan sayur, anak-anaknya juga tidak suka memakan buah jika tidak diolah menjadi jus.

“Memang banyak anak enggak suka makan sayur, anak-anak saya juga. Makan brokoli, sawi, wortel, buncis, itu enggak suka. Akhirnya biar mau makan paling goreng ikan, karena yang banyak di sini kan ikan, atau apa pun yang dia mau makan,” kata Eliyanti, Jumat (4/6/2021).

Agar anaknya mau makan sayur, lanjut Eli, ia memasukkan potongan-potongan sayuran ke dalam gumpalan nasi yang akan diberikan kepada sang anak. Meski terkadang dikeluarkan kembali, namun Eli bersyukur setidaknya sedikit ada yang masuk ke perut.

“Anak memang sering sakit diare, panas, dan flu, padahal ke posyandu rutin. Enggak tahu sebabnya apa, mungkin masalah makan selain cuaca. Jadi kalau lagi sakit saya coba bujuk untuk makan makanan sehat dan melarang makan yang jajanan dulu,” kata Eli. 

Berbeda dengan Eli, warga Kamal Muara yang lain, Mulyani, mengatakan anak-anaknya suka makan sayur. Saking sukanya, dirinya sampai bosan untuk memasakkan sayur. Sehingga, ia menggantinya dengan lauk lain seperti ikan atau ayam. 

“Saya kadang sampai bosan sendiri masaknya, ini mintanya sayur terus. Akhirnya saya ganti yang lain ikan atau beli ayam tepung, biar bervariasi. Kadang juga makan mi instan,” katanya. 

Mulyani mengaku tak mengerti konsep gizi seimbang. Selama ini ia hanya tahu makan sayur, buah, dan ikan itu sehat. Sehingga ia banyak memberikan anak-anaknya sayur dan ikan. “Taunya sehat saja, empat sehat lima sempurna,” jelasnya. 

Ahli Gizi Humanity Medical Service (HMS) - ACT Harum Aulia menjelaskan, banyak masyarakat belum mengetahui serta salah kaprah tentang asupan untuk anak-anak. Salah satu di antaranya adalah konsep "yang penting anak mau makan" tanpa mempedulikan apa yang dimakan. Akibatnya, gejala sakit seperti diare, mual-mual, muntah terjadi. 

“Jangka pendeknya gejala sakit yang biasa terjadi di masyarakat kayak diare, mual, muntah. Jangka panjangnya bisa sakit organ bagian dalam, stunting, kanker, penyakit menular, anemia, bahkan kematian. Jadi pengertian yang penting mau makan harus dihindari dengan menyediakan makanan dengan gizi seimbang,” jelas Harum.