Santap Bersama Bahagiakan Lansia dan Tuna Netra di Gaza

Dapur Umum Indonesia menunjang pangan masyarakat Gaza. Ribuan paket makanan bergizi ini menyapa semua kalangan rentan.

Santap Bersama Bahagiakan Lansia dan Tuna Netra di Gaza' photo
Sejumlah komunitas, seperti masyarakat tunanetra dan lansia dari panti wreda menikmati santap siang bersama makanan dari Dapur Umum Indonesia di taman dekat pantai Gaza. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Ratusan lansia sebuah panti wreda di Gaza bersiap menikmati pagi, Ahad (27/10). Mereka bersama relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan berkunjung ke salah satu pantai. Spesialnya, pada hari itu pula santap makan siang mereka didukung oleh Dapur Umum Indonesia.

Pekan ini, makanan siap santap Dapur Umum Indonesia kembali didistribusikan untuk masyarakat rentan, seperti lansia, difabel, anak yatim, dan keluarga prasejahtera. Bermitra dengan Kitabisa, sebanyak 6.270 jiwa menerima manfaat makanan siap santap Dapur Umum Indonesia per 27 Oktober hingga 6 November ini.

“Dapur Umum Indonesia di Gaza insyaallah menjangkau semua kalangan rentan, baik masyarakat prasejahtera, keluarga dengan anggota keluarga dipenjara Israel, keluarga yang kehilangan anggota keluarga ketika GRM, masyarakat difabel, anak-anak yatim, dan lansia yang tinggal di panti wreda,” jelas Andi Noor faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT.

Faradiba menjelaskan, program ini merupakan bentuk dukungan bagi masyarakat Gaza. Buruknya ketahanan pangan masyarakat Gaza membuat tidak semua orang mampu membeli bahan pangan sarat gizi. Ekonomi Gaza yang kolaps berdampak pada banyak hal, tidak tersedianya lapangan pekerjaan hingga tidak adanya pemasukan yang dimiliki warga Gaza.

“Kami mendapat laporan, banyak anak-anak Gaza yang kekurangan gizi dan terhambat pertumbuhannya. Kami berharap, makanan bergizi nasi, daging ayam, dan sayur ini menyuplai kebutuhan gizi mereka,” tambah Faradiba. Pendistribusian makanan siap santap terus dilakukan seiring dengan kebaikan dermawan yang terus mengalir.

Dilansir dari Lembaga Norwegia untuk Pengungsi, dari 522 rumah tangga yang disurvei, 70 persen menerima dukungan dari Kementerian Pembangunan Sosial, Badan PBB untuk Pengungsi, atau Program Pangan Dunia (WFP). Namun, 16 persen lainnya, atau 84 rumah tangga, tidak menerima bantuan dan tidak memiliki sumber pendapatan. []

Bagikan