Santri di Aceh Timur Tinggal di Balai Tanpa Dinding

Tak semua generasi penerus bangsa ini belajar di tempat yang layak dan nyaman. Ada yang harus merasakan belajar dengan fasilitas terbatas, hingga santri yang tak memiliki asrama.

act langsa
Suasana kamar santri yang ditempati lima orang. Seharusnya, satu ruangan ini hanya untuk dua santri. (ACTNews/Furqan)

ACTNews, ACEH TIMUR “Jangan ditanya, Bang. Setiap hujan deras, kami kadang terpaksa tidak tidur karena air hujan masuk ke dalam balai tanpa dinding itu,ungkap Ilham, salah satu santri Pesantren Istiqamatuddin Babul Jannah, sambil membuka dengan hati-hati jendela kamarnya.

Apa yang diungkapkan Ilham merupakan gambaran bagaimana kondisi asrama pesantren tempat ia dan anak-anak lain menimba ilmu agama. Pesantren ini berada di Desa Buket Pala, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Abi Muhammad Murnadi sebagai Pimpinan Pesantren Istiqamatuddin Babul Jannah, mengatakan, dirinya saat ini sangat kesulitan untuk membangun asrama yang lebih layak untuk para santri. Dana yang terbatas menjadi faktor utama. Hal tersebut dipengaruhi oleh pemasukan pesantren yang minim, apalagi tak ada biaya pungutan untuk pendidikan santri, bahkan untuk makan pun pesantren terkadang mengusahakan agar pangan santri selalu tercukupi.

“Di sini kami tidak mengutip biaya, untuk makanan santri itu dari swadaya santri yang memiliki kelebihan dan partisipasi masyarakat yang kami olah sendiri bersama santri. Jadi, untuk bangun asrama baru saat ini belum sanggup, dana kami terbatas,” kata Abi Muhammad Murnadi akhir Agustus kemarin.

Santri di Pesantren Istiqamatuddin Babul Jannah rata-rata memang datang dari keluarga dengan ekonomi prasejahtera. Selama ini, selepas belajar, mereka menempati sebuah balai sebagai tempat istirahat hingga keesokan harinya. Hal tersebut karena asrama yang tersedia hanya mampu menampung belasan santri, sedangkan saat ini pesantren terus berkembang dan menampung sampai ratusan orang.

Asrama yang ada pun kondisinya ala kadar. Kayu menjadi bahan utama bangunan dengan dinding tripleks. Di beberapa bagian bahkan terlihat celah yang belum diperbaiki. Per kamar seharusnya ditinggali oleh 2 orang, akan tetapi karena kondisi yang mendesak dihuni oleh 3 sampai 5 santri.

“Saat ini Pesantren Istiqamatuddin Babul Jannah menantikan dermawan untuk mendukung aktivitas santri, termasuk dalam hal belajar ilmu Islam. Mereka di sini hadir sebagai generasi penerus kita, penerus bangsa ini,” ungkap Ryandra Saputra, Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) Langsa.[]