Santri Indonesia Belajar di Tengah Keterbatasan

Di berbagai pelosok negeri, masih dapat ditemukan santri yang belajar dengan berbagai keterbatasan. Mulai dari fasilitas pendidikan hingga kebutuhan pangan.

Para santri Walesi, Wamena, yang masih tinggal di pondok. (ACTNews/Akbar)

ACTNews, JAYAWIJAYA, MENTAWAI Udara dingin mengepung Pondok Pesantren Al-Istiqomah di Kampung Walesi, Wamena, Jayawijaya, Jumat (5/10). Bagi penduduk luar Papua yang tak terbiasa beraktivitas di hawa dingin, tubuh perlu penyesuaian. Terlebih ketika hari itu diguyur hujan.

Honai (rumah adat Papua) berdiri di salah satu sudut pesantren. Di samping itu ada bangunan lain yang digunakan oleh pengajar serta puluhan murid belajar. Puluhan murid ini merupakan warga Wamena, baik yang penduduk asli Papua, maupun mereka yang orang tuanya merupakan pendatang. Namun, mereka bersekolah saling berdampingan, hidup damai dalam balutan pendidikan Islam.

Hendra, salah satu tenaga pengajar di Pesantren Al-Istiqomah, mengatakan kepada Aksi Cepat Tanggap, murid-murid yang menuntut ilmu di pesantren di tengah-tengah perbukitan di ketinggian Papua ini gratis. Pihak pesantren yang memenuhi kebutuhan mereka selama belajar. “Kami tak memiliki donatur tetap, kami hidup di sini dengan apa adanya. Tapi keadaan ini tak mengurangi semangat kami dalam belajar,” ungkapnya.

Hal serupa dapat ditemukan di Madrasah Aliyah Swasta Darul Ulum di Sikakap, Mentawai, Sumatra Barat. Pesantren yang dapat ditempuh empat jam perjalanan menggunakan kapal cepat dari Kota Padang ini muridnya pun tak dibebankan biaya pendidikan. Mereka diberikan pendidikan agama serta umum secara gratis. Selain itu, siswanya yang mayoritas berasal dari keluarga prasejahtera juga mendapatkan tempat tinggal layaknya pesantren.


Serah terima paket pangan ke murid dan guru di MAS Darul Ulum, Sikakap pada Maret 2019 lalu. (ACTNews)

Maret lalu, ACT mendapatkan kesempatan berkunjung ke MAS Darul Ulum di Sikakap. Terdapat dua ruang kelas yang dibangun ACT pada 2015 silam. Namun, yang digunakan belajar hanya satu ruang, sedangkan satu ruang lagi sebagai tempat tinggal santri laki-laki. Sebagai penggantinya, langgar dijadikan tempat belajar siswa kelas 12.

Iswandi, kepala sekolah MAS Darul Ulum mengatakan, santrinya berasal dari berbagai penjuru Sikakap. Mereka merupakan anak dari warga prasejahtera. Walau keuangan sekolah tak menentu, namun mereka sama sekali tak dipaksakan untuk membayar iuran sekolah. “Ruang belajar kami terbatas, untuk makan pun kami seadanya, tapi kami tak akan pernah putus menjadi pendidik agama di Mentawai, khususnya Sikakap,” ungkapnya Maret lalu.

Keadaan santri di berbagai pelosok negeri memang demikian. Tak sedikit dari mereka harus belajar dengan berbagai keterbatasan, mulai dari fasilitas pendidikan hingga ketersediaan pangan. Walau demikian, tak sedikit dari mereka tetap semangat menjalankan kegiatan belajar-mengajar.[]