Santri Pondok Pesantren di Karawang Nikmati Air Bersih

“Biasanya santri ambil air di sana jauh, 1.200 meter, itu hanya untuk berwudu, cuci pakaian. Kalau kita antre sehabis subuh, jam delapan baru dapet air,” cerita Burhanudin, ketua yayasan pondok pesantren.

Santri Pondok Pesantren di Karawang Nikmati Air Bersih' photo

ACTNews, KARAWANG – Beberapa hari ke depan, para santri Pondok Pesantren Jami'atul Khoeriyah di Desa Cintaasih, Kecamatan Pangkalan, Karawang, Jawa Barat tidak perlu mengambil air bersih berkilometer jauhnya. Senin (2/9), sekitar lima ribu liter air bersih dipasok Aksi Cepat Tanggap (ACT) Bodekasi (Bogor-Depok-Karawang-Bekasi) di pondok pesantren tersebut.

Musim kemarau mengeringkan sumber air bersih warga di Desa Cintaasih, termasuk sumber air untuk memenuhi kebutuhan air santri dan pengurus Pondok Pesantren Jamiatul Khoeriyah. Menurut keterangan Muhammad Burhanudin Suhari Pimpinan Pondok Pesantren Jami'atul Khoeriyah, desa mereka tidak pernah kekeringan air beberapa tahun lalu. Namun, sejak empat tahun belakangan, sumber air warga menipis dan habis sama sekali ketika kemarau datang.

"Hari ini saya sangat bersyukur atas kedatangan mobil air ini. Saya dan santri bisa kembali berwudu, ibadah, dan mengerjakan muamalah dengan tenang," ungkap Burhanudin.


Menurut cerita Burhanudin, kekeringan sudah mulai terjadi sejak pertengahan Ramadan lalu. Sudah tiga bulan, santri dan pengurus membeli air untuk memenuhi kebutuhan pesantren. "Biasa yang seharusnya 20 tangki atau 20 ribu liter, tetapi kami hanya mampu membeli siang satu tangki, malam satu tangki," jelas Burhanudin.

Ia mengatakan, ada sekitar 325 warga di pondok pesantren. Para santri pun sesekali ikut iuran agar pesantren dapat membeli air bersih.

Burhanudin mengaku, bantuan air bersih sebelumnya belum pernah datang dan baru pernah menerima bantuan air bersih. "Kadang-kadang per santri iuran seribu rupiah," jelas Burhanudin.


Jika tidak ada bantuan air, para santri harus mengambil air ke salah satu sumber mata air yang letaknya sekitar 1,2 kilometer. "Ada sumber mata air di sawah. Itu juga hanya untuk berwudu dan mencuci pakaian. Itu pun harus bergiliran dengan warga. Kalau pergi, misalnya, setelah subuh kebagian (giliran mengambil air) jam delapan. Harus menunggu. Kita juga kalau wudu enggak bisa, misal, (salat) Magrib langsung wudu (di jam salat Magrib) ya ketinggalan (salat). Jadi kalau magrib ya wudunya jam setengah lima atau jam empat," ungkap Burhanudin.

Lala, salah satu santriwati di Pondok Pesantren Jamiatul Khoeriyah, mengaku bersyukur dengan adanya bantuan air bersih yang datang hari itu. Ia merasa sedikit tenang karena air bersih untuk hari itu telah tercukupi. "Enggak perlu ke sumur (sumber mata air) hari ini," katanya.

Pondok pesantren Jami'atul Khoeriyah merupakan pondok pesantren yang didirikan untuk belajar agama di luar pendidikan formal. Sejumlah santri datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan Provinsi Sumatra. Pondok pesantren ini sekaligus menjadi rumah singgah bagi sejumlah santri.

Pendistribusian air di Pondok Pesantren Jami’atul Khoeriyah merupakan rangkaian pemberian air bersih serentak yang dilakukan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Bodekasi, Senin (2/9). Sembilan armada water tank dikerahkan untuk menyediakan air bersih bagi sejumlah desa di empat kecamatan di Kabupaten Karawang. []

Bagikan