Sapa Kampung Mualaf Eks Warga Timor Timur Lewat Kurban Terbaik

Pada Iduladha tahun ini, Global Qurban-ACT hadir menyapa kampung mualaf eks warga Timor Timur di Desa Sukabitetek, Kabupaten Belu, NTT. Sebanyak 34 kepala keluarga merasakan nikmatnya daging kurban di tengah hidup sebagai minoritas.

Muhammad Yazid, salah seorang mualaf eks warga Timor Timur di Desa Sukabitetek (Leontelu), Belu NTT. (ACTNews)

ACTNews, BELU – Senyum kebahagiaan tak dapat disembunyikan dari wajah Muhammad Yazid, salah seorang warga mualaf eks Timor Timur yang telah menetap di Desa Sukabitetek (Leontelu), Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Kebahagiaan Yazid timbul saat Tim Global Qurban-ACT memberikan daging kurban terbaik pada hari tasyrik kedua, Kamis (22/7/2021).

Awalnya Yazid merupakan warga Timor Timur, namun saat opsi jajak pendapat pada 1999, dirinya lebih memilih bergabung menjadi Warga Negara Indonesia. “Saya kan pro otonomi khusus Timor Timur, tapi kita kan kalah suara. Jadi saya mengungsi ke sini (Desa Sukabitetek) dari tahun 1999,” ungkap Yazid.

Kepada Tim Global Qurban-ACT, Yazid juga menceritakan, awal mula dirinya memeluk agama Islam yang telah dianutnya sejak 2017.

“Awalnya anak-anak saya dulu masuk Islam, jadi saya juga ikut. Alhamdulillah saya punya anak-anak masuk ke Pesantren semua. Itu kemauan saya sendiri, tidak ada siapa pun yang memaksa saya masuk Islam. Saya senangnya begini kalau barang yang haram (dalam Islam) tidak boleh disentuh, itulah kesukaan saya disitu,” tutur Yazid.

Kehadiran dua ekor sapi kurban terbaik dari Global Qurban-ACT, diakui Yazid sangat membawa berkah di tengah momen Iduladha tahun ini. “Kami bersyukur, ACT selalu perhatikan kami mualaf dari Timor Timur, itu kami berterima kasih banyak,” jelas Yazid.

“Kadang-kadang kita makan daging, ya kalau punya uang saja. Paling makan sayur atau ikan. Kalau daging di sini mahal sekilo bisa 80-90 ribu, jadi kita ada kalau ada uang makan daging sebulan sekali, kalau tidak ada setahun sekali lah begitu,” ungkap Yazid, menceritakan begitu sulitnya mengonsumsi makanan daging bagi warga Sukabitetek.

Tercatat sebanyak 34 kepala keluarga mualaf menetap di Desa Sukabitetek, yang mana hidup berdampingan di tengah mayoritas penganut agama Kristen Katolik. Menurut Yazid, ini bukanlah penghalang bagi dirinya untuk beribadah dan menjalin sikap persatuan. Bahkan, momen Iduladha setiap tahunnya juga menjadi ajang menjalin silaturahmi antar sesama.

“Kita bagi semua daging kurban (untuk umat Islam dan Kristen Katolik), karena kalau makan sendiri saja tidak enak, kita bagi bagi lah supaya kita merasakan semua. Barangkali ada hidayah dia bisa bergabung dengan kita, itu kita tidak tahu,” tambah Yazid.[]