Sarwono Mencari Nafkah di Tengah Kesehatan yang Memburuk

Sarwono tidak sekalipun mengutuk keadaan walaupun kondisi kesehatannya kian menurun. Ia lebih memilih melanjutkan perjuangan mencari nafkah.

ACTNews, SOLO – Sudah beberapa tahun ini penyakit paru obstruktif kronis hinggap di tubuh Sarwono (78). Pria paruh baya kelahiran Solo itu harus berjuang seorang diri menghadapi penyakit di masa tuanya. 

Sarwono tinggal beda kota dengan anak dan istrinya yang kini berada di Purwodadi. Ia juga bercerita, sudah lama tidak bisa menghubungi keluarga di Purwodadi karena keadaan yang serba terbatas saat ini. Di Solo, Sarwono bekerja sebagai menjadi tukang becak demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Walaupun kesehatannya memburuk, ia tetap berjuang menahan sakit untuk mencari nafkah.

Sejak kesehatan Sarwono memburuk, ia pun tak lagi bisa bekerja secara penuh. Belum lagi, saat ini jarang sekali penumpang yang memilih moda transportasi becak.


“Sehari biasanya dapat 16 ribu rupiah. Itu pun harus dipotong biaya sewa lima ribu rupiah,” aku Sarwono kepada tim Mobile Social Rescue - Aksi Cepat Tanggap (MSR - ACT) Solo, Senin (8/7). Hari itu, tim MSR - ACT melakukan pendampingan terhadap Sarwono.

Senin pagi, tim MSR mengganti perban yang membalut luka yang ada di kakinya. Tim juga memberikan edukasi kepada Sarwono agar rutin membersihkan luka dan mengganti perban. Pendampingan berlanjut, tim MSR mengantarkan Sarwono ke rumah sakit Moewardi untuk pemeriksaan kesehatan dan terapi nebulizer. Selain memberikan pendampingan kesehatan, ACT Solo akan menyalurkan bantuan berupa sembako dan sandang. 

“Program seperti ini akan dimasifkan oleh ACT Solo untuk menggerakkan kepedulian umat agar peduli terhadap lansia yang benar-benar membutuhkan bantuan,” terang Ardiansyah dari Tim Program ACT Solo. []