Satiah, Bertani dan Menjahit sebagai Ikhtiar Lepas dari Utang

Selain bertani, Satiah memenuhi kebutuhan keluarganya dengan menjadi penjahit. Berutang pun sempat dia lakukan demi menutupi kebutuhan yang terus berjalan.

Menggantikan suaminya yang sakit diabetes, Satiah kini menjadi tulang punggung bagi keluarga. (ACTNews)

ACTNews, MOJOKERTO – Satiah (60), ibu sekaligus seorang nenek yang menjadi petani dari Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, Jawa Timur. Ia adalah satu-satunya petani perempuan di kelompok taninya.  Ia menyawah sudah sejak 10 tahun silam, sejak kaki suaminya harus diamputasi karena diabetes. 

Sebagai tulang punggung keluarga, ia harus menggarap lahan seluas 2.800 meter persegi. Semua itu untuk menghidupi suami, anak perempuan satu-satunya, menantu dan tiga orang cucu.

Terkadang bantuan datang dari anaknya yang telah bekerja sebagai petugas KUA setempat. Namun untuk kebutuhan harian Satiah tidak dapat bergantung terus-menerus kepada anaknya.


Menjahit menjadi salah satu pilihan Satiyah untuk terus memenuhi kebutuhannya sehari-hari. (ACTNews)

Mashudi dari Tim Program Global Wakaf – ACT Mojokerto pada pertengahan Februari lalu, yang langsung bertemu Satiah, menjelaskan dengan kondisi keuangan yang minim, Satiah terpaksa meminjam uang dari siapa saja. Ia saat ini memiliki utang dari rentenir dengan total pengembalian hampir Rp 3 juta rupiah.

“Global Wakaf – ACT pun berikhtiar membantu pergerakan ekonomi Satiah dengan modal Wakaf Sawah Produktif. Mashudi menjelaskan, Wakaf Sawah Produktif saat ini menjadi hulu dari Gerakan Sedekah Pangan Nasional,” katanya. Modal yang saat ini dibutuhkan antara Rp 3,5-5 juta. Kendala Satiah saat ini yakni semakin langkanya pupuk subsidi, yang menjadikan modal bertani menjadi tinggi.[]