Satu Tahun Eksodus Rohingya: Melupakan Tragedi dengan Mendidik

Satu Tahun Eksodus Rohingya: Melupakan Tragedi dengan Mendidik

Satu Tahun Eksodus Rohingya: Melupakan Tragedi dengan Mendidik' photo

ACTNews, COX’S BAZAR - Hampir satu tahun tragedi Rohingya berlalu. Krisis kemanusiaan terbesar di Asia Tenggara pada akhir Agustus 2017 silam menyisakan jejak eksodus 500 ribu lebih pengungsi Rohingya di Bangladesh. Selama hampir setahun, ratusan ribu pengungsi baru ini berusaha berdamai dengan kenangan pahit. Salah satunya adalah Mustafa Kamal, yang kini menetap di Kamp Kutupalong, Cox’s Bazar, Bangladesh.

Sebagai manusia yang diberkahi emosi, kesedihan dan keputusasaan merupakan perasaan yang wajar dirasakan. Apalagi setelah didera musibah bertubi-tubi. Kesedihan dan keputusasaan menjadi hantu yang menggelendoti. Tidak jarang, mereka yang gagal memerangi dua emosi negatif ini menyerah pada keadaan dan kehilangan semangat hidup.

Namun, Mustafa Kamal terampil memerangi kesedihan dan keputusasaan. Sebagai seorang Rohingya, Mustafa menghabiskan separuh hidupnya di bawah persekusi. Masa depannya boleh jadi dihabiskan dengan menjadi pengungsi.

Mustafa Kamal menceritakan kisahnya pada Aksi Cepat Tanggap (ACT). Dari ruang kelas yang dirembesi cahaya matahari, Mustafa memandang lurus-lurus. Bahunya teguh, dan walau sesekali matanya berkaca-kaca mengingat kejadian pahit yang menderanya, suaranya tetap mantap.

Kisah Mustafa di tengah tragedi

Mustafa merupakan pria berpendidikan tinggi. Tahun 1990, ia memperoleh gelar master di bidang Kajian Hadis dari Universitas Maungdaw di Minglagyi. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia mengajar di beberapa madrasah di Myanmar. Penghasilannya cukup. Mustafa hidup bahagia.

Roda kehidupannya mulai berderak ke bawah pada 2012, ketika pemerintah Myanmar membuat kebijakan yang merestriksi operasi madrasah. Akibatnya, Mustafa dan rekan-rekannya sesama guru tidak lagi bisa mengajar dengan terbuka. Mereka pun mengajar anak-anak dan orang dewasa dalam rumah-rumah yang diubah menjadi masjid. Setelah huru-hara di Rakhine State pada 2012, Mustafa harus senantiasa menunduk, agar tidak terciduk. Selama lima tahun ia hidup seperti itu.

“Segalanya memburuk pada tahun 2017. Suatu hari di bulan Oktober, kami sedang melakukan pengajian hadis dengan warga di sebuah masjid. Tiba-tiba, kami mendengar suara tembakan. Kami beranjak ke luar, dan melihat personel militer menembak membabi-buta. Seorang sepupu saya ditembak mati di depan mata saya sendiri,” cerita Mustafa kepada ACT di Bangladesh.

Mustafa dan beberapa orang segera berlari ke sebuah tempat persembunyian, meninggalkan ayahnya yang sudah terlalu renta untuk bergerak. Ketika mereka pulang, ayah Mustafa sudah tergeletak tidak bernyawa. Mustafa dan keluarganya menguburkannya sesederhana dan secepat mungkin, tapi tetap saja diinterupsi oleh militer yang kembali menembak. Selagi mereka berlari, satu lagi keluarga Mustafa ditembak mati: pamannya yang berusia 80 tahun.

Semua warga di desa Mustafa tidak tahan lagi. Di tengah kepedihan, mereka semua kabur dari desa sementara tentara menjarah harta mereka dan membakar rumah mereka. Setelahnya, mereka tinggal di lapangan terbuka selama dua hari, tanpa atap atau alas, menunggu situasi menjadi lebih baik.

Situasi justru memburuk setelah mereka diterpa badai. Seorang anak lelaki Mustafa meninggal akibat diare. Saat itulah, mereka semua memutuskan untuk berpindah ke Bangladesh.

Selama satu minggu, Mustafa dan warga desa lainnya berjalan melewati rimbun hutan dan terjal gunung. Para pemuda yang cukup kuat, harus menggendong lansia dan juga anak-anak dan bayi. Tidak sedikit pula yang menggendong seorang anak di punggung dan anak lainnya di lengan. Semuanya dilakukan dengan menahan lapar dan haus.

“Sulit sekali rasanya, menempuh jarak ratusan kilo tanpa makan dan minum. Kami tidak tahu arah ke Bangladesh di hutan, tapi tidak bisa juga turun ke jalan raya karena akan ditembak oleh militer Myanmar,” Mustafa mengingat ulang dilema yang harus dihadapinya.

Setelah satu minggu, mereka tiba di Pantai Merullah di sebelah selatan Maungdaw. Diiringi desing peluru militer Myanmar, mereka menemukan perahu kayu kecil yang mampu mereka tumpangi hingga ke Bangladesh. Maka Mustafa dan puluhan orang lain naik ke perahu yang kelebihan muatan itu.

“Ombaknya kencang sekali. Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bayi tiga bulan tergelincir dari tangan ibunya di atas perahu. Bayi itu terlepas dan langsung ditelan ombak,” kenang Mustafa.

Kehidupan setelah tragedi

Kondisi Mustafa dan pengungsi Rohingya lainnya tidak membaik setelah mereka tiba di lepas pantai sekitar Kutupalong. Mereka berlabuh sekitar tengah malam, terlalu lelah dan lapar untuk mencari pertolongan. Diceritakan Mustafa, mereka langsung tidur dengan pakaian basah di atas pasir.

“Tapi di pagi hari, warga Bangladesh setempat langsung membantu kami. Mereka memberikan kami makanan dan minuman, memberi ongkos, dan mengantarkan kami ke stasiun bus. Setelah kami sampai di Kutupalong, tidak ada jalan, tidak ada tempat berlindung. Tapi, alhamdulillah, banyak sekali orang yang bersimpati yang memberikan kami makanan, tempat berlindung, dan bahkan fasilitas kesehatan. Semua itu juga karena bantuan dana yang dialirkan ACT untuk kami,” kisah Mustafa.

Mustafa juga tak henti-hentinya mengucap syukur atas keramahan para warga Bangladesh yang menerima mereka tanpa pamrih. Warga Bangladesh tidak ada yang menjarah harta mereka atau menyakiti mereka, semuanya begitu terbuka dan menerima. Sisi terbaik yang bisa dipikirkan Mustafa dari hidup di pengungsian Kutupalong ini adalah, ia bisa kembali mengajar.

“Di Myanmar, kami tidak memiliki akses ataupun fasilitas untuk mencari ilmu pengetahuan. Di sini, alhamdulillah, orang setempat dan ACT telah membangun tempat yang mampu memfasilitasi kami untuk belajar dan mengajar,” kata Mustafa penuh syukur.

Adalah Sekolah Husaina, yang terletak di Kamp Pengungsian Modussara di Kutupalong, Cox’s Bazar, yang menjadi tempat menimba ilmu para anak-anak pengungsi Rohingya. Sekolah ini juga menjadi tempat Mustafa dan tiga orang guru lainnya, mencurahkan ilmu mereka, memastikan ilmu mereka menjadi amal jariyah yang terus mengalir selama digunakan oleh para penerus generasi.

Sebelumnya, di Myanmar, anak-anak Rohingya butuh berjalan kaki 70 kilometer untuk mencapai madrasah, perjalanan yang membutuhkan mereka dua hari perjalanan kaki, pergi dan pulang, dan hanya menyisakan tiga hari efektif untuk belajar.

“Di sini, kami tidak perlu berjalan jauh untuk belajar. Walau jumlah guru minim dan jumlah murid banyak, tapi alhamdulillah, kami bisa mengajar banyak pelajaran seperti Alquran, bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Myanmar, Matematika, dan ilmu agama,” tutur Mustafa.

Mustafa adalah salah satu guru pengungsi Rohingya yang aktif mendidik para pengungsi anak di Kamp Kutupalong. Aktivitasnya menjadi seorang guru didukung penuh oleh ACT melalui program Beaguru (Teacher Sponsorship). Bersama ratusan guru Rohingya yang berdedikasi lainnya, ia mendapatkan tunjangan guru setiap bulannya. Dari tunjangan yang ia dapatkan per bulannya, Mustafa mulai menata hidup.

“Alhamdulillah, saya bersyukur sekali dengan bantuan ini. Semoga Allah terus memberkahi masyarakat Indonesia, baik di dunia maupun di akhirat,” ucap Mustafa. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan