SD Regina Pacis Gelar Mitigasi Bencana

Antusias murid dan guru terlihat di SD Regina Pacis, Palmerah, Jakarta. Di pekan pertama ajaran baru ini, mereka mendapatkan pelatihan mitigasi bencana dari Disaster Management Institute of Indonesia (DMII)-Aksi Cepat Tanggap.

SD Regina Pacis Gelar Mitigasi Bencana' photo

ACTNews, JAKARTA Sebanyak 423 siswa serta 20 guru dari Sekolah Dasar Regina Pacis, Jakarta, tumpah ruah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS dengan tema Siaga Bencana 2019. Acara ini menghadirkan pelatih kebencanaan dari Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) - ACT, Rabu (17/7).

Erry Septiadi dari Tim Pelatih Kebencanaan DMII mengatakan, acara ini merupakan program Sekolah Siaga Bencana (SSB) yang digelar 16–19 Juli 2019. SSB diadakan di 10 sekolah di Jabodetabek dan dua Sekolah di Padang, Sumatra Barat.

“Tujuan kami mengadakan program ini agar para siswa beserta gurunya mampu menyadari risiko bencana, mengevakuasi diri, menyelamatkan orang lainnya ketika ada bencana. Khususnya gempa bumi dan kebakaran,” jelas Erry.


Dalam pelatihan kali ini, selain memberikan materi ajar, tim DMII juga mengadakan simulasi penyelamatan diri saat bencana terjadi. Para siswa dan guru diajak untuk mempraktikkan langsung proses evakuasi. Terlihat mereka antusias dalam memahami pelatihan yang dilakukan.

Kepala Sekolah SD Regina Pacis Theresia Indra Risanti (46) menyebut, edukasi ini sangat penting bagi anak didiknya. Oleh karena itu, ia mengusahakan seluruh anak didiknya mendapatkan materi tentang kebencanaan ini.  

“Kami bersyukur seluruh anak didik kami mengikuti mitigasi tadi. Acara ini sangat bermanfaat untuk kami. Dengan pelatihan ini, para guru dan anak-anak didik mampu mengetahui secara langsung bagaimana menyelamatkan diri dari bencana, minimal untuk diri sendiri, bahkan untu membantu temannya, keluarga dan orang lain,” tutur Theresia.    

Theresia menambahkan, mitigasi ini penting digelar di sekolah lainnya, khususnya Jakarta. Hal itu mengingat banyak sekolah di ibu kota yang menggunakan gedung tinggi sebagai tempat belajarnya. “Harapan kami kegiatan serupa dapat diikuti sekolah lain dan berkelanjutan, bahkan kalau bisa masuk dalam kurikulum belajar,” harapnya.[]

Bagikan