Sebanyak 22 Ribu Warga Yaman Terlantar Akibat Kekerasan di Marib

Sebanyak 22 Ribu Warga Yaman harus terlantar, karena kekerasan yang terjadi di Marib. PPB menyebut ratusan warga tersebut, tidak lagi mampu membeli makanan dan komoditas bahan pokok.

Krisis kemanusiaan Yaman
Seorang anak laki-laki Yaman yang tengah menerima manfaat bantuan paket lebaran. (ACTNews)

ACTNews, YAMAN – Sebutan Yaman sebagai negara paling krisis kemanusiaan di dunia tentu sangat menyentuh rasa kemanusian siapa pun saat mendengarnya. Krisis kemanusiaan yang sudah terjadi berkepanjangan ini, berdampak kepada semua lini kehidupan di sana.

Data terbaru yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyebut sebanyak 22.000 Warga Yaman terlantar akibat kekerasan yang terjadi di Malib. “Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB memberi tahu kami bahwa konflik di Marib terus berlanjut, yang mana kekerasan telah membuat lebih dari 22.000 orang mengungsi sejak awal Februari,” ungkap Stephane Dujarric, Juru Bicara PBB, Jumat (25/6/2021).

Tak hanya menyebabkan 22.000 Warga Yaman terlantar di pengungsian, Dujarric mengungkapkan ekonomi Yaman telah runtuh, yang mana mengakibatkan lebih banyak warga Yaman tidak mampu membeli makanan dan komoditas bahan pokok. PBB memperingatkan bahwa lebih dari setengah populasi negara tersebut menghadapi kerawanan pangan dan lima juta warga Yaman diambang kelaparan.

Andi Noor Faradiba sebagai Manajer Global Humanity Response ACT mengatakan, melalui kepedulian Sahabat Dermawan, ACT terus berikhtiar meredam krisis kemanusiaan utamanya pemenuhan kebutuhan pangan di Yaman. Seperti Ramadan 1442 hijriah lalu, ACT menyalurkan zakat fitrah, pakaian lebaran, dan bantuan pangan bagi para pengungsi di Yaman,

“Insyaallah, ACT akan terus hadir bagi saudara-saudara kita di Yaman. Saat ini Global Qurban-ACT tengah berikhtiar untuk membagikan hewan kurban di sana agar mereka juga bisa merasakan indahnya momen Idul Adha seperti kita di Indonesia,” ucap Faradiba. Yaman telah dilanda konflik dan ketidakstabilan sejak tahun 2014.[]