Sebatang Kara, Rumidah Hidup Prasejahtera di Usia Lanjut

Usianya tak lagi muda, tapi Rumidah harus menyambung hidup dengan bekerja sebagai buruh serabutan di pasar. Ia pun tinggal di rumah yang tak layak huni, dan memenuhi kebutuhan pangannya dari kedermawanan tetangganya.

Rumidah saat ditemui di depan rumahnya yang ada di Tegal Gundil, Kota Bogor. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Setahun sebelum suaminya meninggal dunia, Rumidah (95) dan keluarganya membangun tempat tinggal di perkampungan Bogor Baru, Tegal Gundil, Kota Bogor, tepatnya pada 1993. Hingga saat ini, tempat tersebut masih ditinggali Rumidah. Bedanya, kini ia tinggal sendiri, tanpa suami yang sudah meninggal dunia pada 1994 silam dan tanpa anak. Anak semata wayang Rumidah sudah menikah dan mengikuti sang suami ke Medan. Sampai hari ini ia tak pernah mendengar kabar anaknya tersebut.

Hidup prasejahtera seakan menjadi bagian dari kehidupan lansia kelahiran Yogyakarta tahun 1915 itu. Rumah yang dibangun bersama sang suami jarang tersentuh renovasi besar. Atap dan dinding rumah tersebut penuh dengan tambalan, nyaris roboh pula. Tanah menjadi lantainya. Tidak ada barang mewah. Di dalam tempat tersebut juga sangat berantakan.

Untuk urusan buang hajat, Rumidah selalu menuju kebun yang ada di samping rumahnya, tidak ada kamar mandi di rumah tersebut. Bila hujan, air kerap bocor dan ketika udara malam akan terasa sangat dingin sekalipun berada di dalam rumah. Maka dari itu, Rumidah sering terpaksa menumpang di rumah tetangganya untuk sekadar tidur.

“Sendirian di sini,” ungkap Rumidah saat ditemui oleh tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Bogor beberapa waktu lalu.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, di usia yang sudah senja itu, Rumidah masih harus bekerja di pasar. Ia menjadi buruh serabutan dengan upah kurang dari Rp20 ribu per hari, biasanya ia membantu membungkus sayur untuk pedagang di pasar. Subuh menjadi awal mulai Rumidah mencari nafkah, kemudian bakal selesai ketika magrib tiba. Namun, jika lelah menyergap tubuh, Rumidah memilih beristirahat dari pekerjaannya dan menghabiskan waktu di rumah.

“Kalau makan sehari-hari, Nenek Rumidah sering dibantu sama tetangganya karena kompor sama alat masak Nenek Rumidah sendiri sudah lama rusak,” ungkap Khisnul Khasanah dari tim Program ACT Bogor, Kamis (7/1/2021).

Ikhtiar mendampingi

Pertemuan ACT Bogor dengan Rumidah merupakan sebuah silaturahmi yang sedang dibangun. Selain itu, beberapa waktu lalu, ACT juga telah menyerahkan bantuan pangan. Dan, saat ini, melalui laman Kitabisa.com, ACT Bogor sedang menggalang dana guna merenovasi tempat tinggal Rumidah agar jauh lebih layak dibandingkan sekarang.

“Ini menjadi ikhtiar kita bersama untuk membantu Nenek Rumidah keluar dari jurang kemiskinan di usia senjanya. Penggalangan dana tinggal beberapa hari lagi melalui Kitabisa, namun sedekah terbaik masih bisa disalurkan dengan menghubungi ACT Bogor melalui media sosial atau datang langsung ke kantor kami di Jalan Achmad Adnawijaya Nomor 65, Tegal Gundil, Bogor Utara, Kota Bogor,” ajak Khisnul.[]