Seberapa Besar Potensi dan Kebermanfaatan Wakaf Tunai?

Potensi wakaf tunai cukup besar di Indonesia. Kehadirannya pun digadang memiliki kebermanfaatan yang besar.

wakaf tunai
Ilustrasi. Berbagai fasilitas dari wakaf berdiri untuk kemanfaatan masyarakat sendiri. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Kian hari, problematika dunia kian kompleks. Seperti pandemi yang tengah dihadapi masyarakat selama dua tahun ke belakang. Pandemi tak hanya mendampak kesehatan, tetapi juga ekonomi masyarakat secara luas. Ditenggarai jumlah warga prasejahtera dan pengangguran bertambah semenjak pandemi.

Dalam menghadapi permasalahan ekonomi, Islam turut memberikan solusi, salah satunya melalui wakaf. Bahkan, para ulama telah membuat wakaf tunai sebagai salah satu produk ijtihad agar kemanfaatannya lebih tepat, baik, dan arif bagi kemaslahatan hidup bersama.

Wakaf tunai adalah wakaf yang dilakukan seseorang, suatu kelompok, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai, termasuk dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga, seperti saham dan cek. Aset wakaf akan dikelola nazir dalam bentuk produktif dengan hasil yang bermanfaat bagi masyarakat. Potensi wakaf tunai di Indonesia disebut dapat mencapai Rp180 triliun per tahun.

Dengan potensi yang besar ini, banyak pihak yang optimis dengan perkembangan wakaf. Misalnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, wakaf bisa menjadi salah satu instrumen alternatif untuk membantu pemulihan ekonomi nasional. Menurut Perry, potensi wakaf di Indonesia besar, sebab mayoritas warga Indonesia merupakan muslim.

Salah satu bentuk penyaluran wakaf tunai produktif yakni kepada program-program berbasis pertanian. (ACTNews/Reza Mardhani)

"Instrumen ini (wakaf) bisa menjadi alternatif mendukung aktivitas ekonomi sekaligus pendalaman pasar keuangan untuk membantu mempercepat pemulihan ekonomi," ujarnya dalam acara International Forum on Contemporary Fiqh Issues on Islamic Economies and Finance pada pertengahan Oktober 2020.

Membincang keberhasilan wakaf dari segi sejarah, Imam Saptono sebagai Wakil Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia mengajak masyarakat melihat kembali zaman keemasan wakaf saat menjadi gaya hidup umat Islam. Berbagai fasilitas dari wakaf berdiri untuk kemanfaatan masyarakat sendiri.

“Begitu industri wakaf itu berkembang dan investasi wakaf itu begitu marak, maka anak cucu keturunan kita akan terjamin dan tidak akan bisa lepas dari kontribusi wakaf. Dia akan lahir di rumah sakit wakaf, kemudian akan sekolah di sekolah wakaf, kemudian akan bekerja di perusahaan-perusahaan wakaf, akan beribadah di masjid-masjid wakaf, kemudian akan wafat pun di tanah-tanah wakaf,” jelas Imam dalam Live Virtual Waqf Training Global Waqf Academy-Aksi Cepat Tanggap pada Selasa (27/4/2021).

Imam menjelaskan, di zaman kekuasaan Umar Abdul Azis pada tahun 818-821 masehi, tidak ada lagi orang yang menerima zakat. Salah satu sebabnya karena saat itu negara meminjamkan modal tanpa bunga untuk para pedagang yang membutuhkan. Umar bahkan meminta istrinya yang bernama Fatimah untuk memberikan perhiasannya kepada Baitul Mal negara.

“Sehingga kalau kita berumrah itu di Arafah ada saluran yang nama saluran airnya Fatimah. Fatimah itu sebenarnya istri dari Umar Abdul Azis, yang saluran air itu dibangun dari wakaf perhiasan istri beliau,” kata Imam.

Menurut Imam, manfaat wakaf dapat dinikmati secara umum, bukan hanya terkhusus untuk orang Islam saja. “Wakaf ini salah satu instrumen yang menunjukkan Islam rahmatan lil alamin. Jangankan umat selain muslim, bahkan dalam sejarahnya disebutkan bahwa wakaf ini pernah digunakan untuk konservasi alam. Membiayai kelestarian hewan, dan seterusnya,” tutur Imam.[]