Sehari 10.000 Paket Makanan, Dapur Umum ACT Terus Berlanjut

Sehari 10.000 Paket Makanan, Dapur Umum ACT Terus Berlanjut

ACTNews, COX’S BAZAR - Mengintip ke dalam tenda-tenda pengungsian Rohingya yang menyebar di seantero Kota Cox’s Bazar, hanya wajah-wajah kalut yang begitu nampak. Nasib baik sedang tak berpihak, memori buruk tentang persekusi, pembakaran kampung, sampai pembunuhan atas orang-orang Rohingya masih membekas begitu jelas dalam garis kalut di wajah mereka.

Di kota kecil ini, setidaknya ada 12 kamp besar yang terdata. Jika ditotal seluruhnya, mengutip catatan Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) jumlah pengungsi baru Rohingya yang melarikan diri dari Arakan dan menyeberang Sungai Naf sudah mencapai angka 519.000 jiwa (data 7 Oktober 2017). Artinya, setengah juta lebih pengungsi baru kini menyesak dengan setengah juta pengungsi Rohingya lain yang sudah datang lebih dulu sejak tahun 2012.

Apa jadinya jika sejuta lebih pengungsi Rohingya hanya bisa menunggu tanpa tahu akan seperti apa hari esok?

Apalagi pasokan makanan tak pernah bisa tercukupi. Untuk satu kamp kecil saja seperti Kamp Unchiprang atau Kamp Thangkali, disesaki lebih dari 28.000 jiwa pengungsi. Belum lagi dengan Kamp besar seperti Kutupalong yang dihuni lebih dari 200 ribu pengungsi!

Butuh berapa ratus ribu paket nasi yang harus dipasok sepanjang hari untuk menjaga agar lambung pengungsi Rohingya itu tak kosong?

Dapur Umum ACT di 5 lokasi kamp, 10.000 paket makanan sehari

Setiap pergantian pagi, asap tak berhenti mengepul dari puluhan tungku besar di lima dapur umum yang tersebar di lima titik kamp yang berbeda. Dalam setiap dapur, sekira lima sampai enam tungku menyala bersamaan. Potongan sayur, kentang, daging ayam, dan nasi ditanak dalam wajan-wajan besar. Tangan-tangan orang Rohingya juga tak henti mengaduk masakan di dalam wajan-wajan besar itu, menjaga agar makanan berhasil diolah sempurna.

Begitu kesibukan yang selalu dimulai setiap pagi di dapur umum yang diinisiasi oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT). Selama 10 hari berturut-turut, terhitung sejak Rabu (11/10) dapur umum ACT untuk kamp-kamp Rohingya tidak pernah berhenti untuk memasak dan mengolah bahan makanan menjadi makanan siap saji.

Lima titik dapur umum ACT tersebar di lima kamp berbeda, mulai dari kamp Unchiprang, Kamp Balukhali, Kamp Tangkhali, Kamp Palongkhali, dan Kamp Kutupalong. Masing-masing kamp memulai pagi sampai siang dalam kesibukan memasak 2.000 paket makanan. Jika ditotal keseluruhan, dapur umum ACT di lima kamp berbeda memasak kurang lebih 10.000 makanan siap saji, setiap hari tanpa henti.

Jelang siang, setelah azan Zuhur, dua ribu paket makan dibagikan langsung ke setiap kamp. Anak-anak Rohingya dan perempuan menjadi prioritas. Tapi 2.000 paket makan untuk setiap kamp tentu masih sangat kurang. Dari Kamp Unchiprang misalnya, si ibu dan bocah Rohingya berpeluh lumpur itu mungkin harus berebut dan berbagi jatah dengan 28.000 jiwa pengungsi lain yang bernasib sama. Perut perih dan lambung kosong sepanjang hari. []

Tag

Belum ada tag sama sekali