Sehari Terasa Setahun, Fatima Ceritakan Buruknya Musim Dingin di Suriah

Musim dingin di Suriah, membuat kondisi para pengungsi internal di sana makin parah. Salah satu pengungsi, Fatima, menceritakan kondisi di kamp pengungsian sangat buruk ketika musim dingin tiba. Sehari, terasa seperti setahun katanya.

musim dingin suriah
Ilustrasi. Suasana musim dingin di kamp pengungsian Suriah. (Dokumen istimewa)

ACTNews, SURIAHFatima merupakan salah satu pengungsi internal Suriah. Sudah lama ia menjadi pengungsi sejak rumah dan segala harta benda yang ia miliki, hancur akibat konflik. Kini, ia bermukim di kamp pengungsian Ali, di Suriah Utara, bersama anak-anaknya dan ribuan pengungsi lainnya.

Keluarga Fatima menjalani kehidupan yang sangat sulit di kamp pengungsian. Fatima menceritakan, hanya ada sedikit sumber daya yang tersedia, sementara jumlah bantuan kemanusiaan yang tersedia di kamp tersebut terus menurun dari waktu ke waktu.

Musim dingin yang beberapa bulan lagi akan menerjang Suriah pun membuat Fatima sangat khawatir. Sebab, pada musim dingin sebelumnya, Fatima menyebut kondisi kamp pengungsian sangat parah. Tanpa tempat berlindung yang cukup atau tempat tidur yang layak, para pengungsi akan sangat menderita.

"Sekarang kita hidup dalam kesengsaraan. Sehari terasa seperti setahun karena kesulitan yang kita hadapi setiap hari.” ujar Fatima.

Fatima mengingat suatu malam dari musim dingin tahun lalu, ketika salju turun dengan lebat dan angin kencang menghancurkan banyak tenda pengungsian. Suaminya tetap terjaga untuk melindungi tenda, tetapi sayangnya tenda itu runtuh. Alhasil, Fatima dan keluarganya harus pindah dan menumpang ke tenda pengungsi lain.

“Pakaian dan tempat tidur kami sangat basah dan anak-anak saya masuk angin. Saya tidak akan pernah melupakan musim dingin saat itu.” kenang Fatima.

Musim dingin di Suriah memang menjadi masa yang sangat berbahaya. Namun kehidupan di kamp Ali, yang terletak di kaki gunung, menambah parah bahaya tersebut.

“Batu-batu jatuh dari pegunungan saat cuaca buruk. Tidak mungkin mendengar batu datang, jadi ketika itu terjadi, sangat menakutkan. Pernah batu-batu itu mengenai tenda kami, tetapi dengan lindungan Allah, kami bangun tepat waktu untuk melarikan diri ke kerabat kami di kamp lain. Kami berlari melewati hujan lebat dan kegelapan total, karena pada saat itu tidak ada listrik di luar kamp. Saya tidak akan pernah melupakan kengerian malam itu.” cerita Fatima.

Pada tahun ini, Fatima telah kehilangan orang tua dan suaminya. Ia membesarkan anak-anaknya sendirian. Fatima melakukan semua yang dia bisa untuk memenuhi kebutuhan mereka meski sangat sulit karena kemiskinan parah yang ia derita, serta lokasi kamp yang berada di tempat terpencil.

“Belum lagi rumah sakit jauh dan kami tidak memiliki sarana untuk menjangkau ke sana. Anak-anak saya sering sakit, tetapi kami tidak bisa pergi ke rumah sakit. Terkadang kami mencoba menunggu mobil yang lewat untuk membawa kami ke sana. Selain itu, obat-obatan sangat mahal. Saya membutuhkannya, tetapi saya tidak mampu membelinya.” imbuh Fatima.[]