Sejak Erupsi, Gunung Merapi Menggembung Setiap Hari

Gunung Merapi mengalami penggembungan dengan laju 0,5 sentimeter per hari sejak erupsi 22 Juni lalu. Kemungkinan penggembungan ini mengindikasikan erupsi ataupun tumbuhnya kubah lava.

Gunung Merapi saat erupsi pada 2019 lalu menyemburkan kolom abu setinggi 1.500. (ANTARA Foto/Rudi)

ACTNews, SLEMAN – Gunung Merapi mengalami perubahan pada bentuknya. Dilansir dari Kompas, Hanik Humaida selaku Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menjelaskan Gunung Merapi mengalami penggembungan dengan laju 0,5 sentimeter per hari.

Hanik mengatakan, semakin besar penggembungan dapat diindikasi bahwa Gunung Merapi akan mengalami erupsi. Tak hanya erupsi, penggembungan juga dapat mengindikasikan hal lain, yakni tumbuhnya kubah lava. "Dari kubah lava itu yang akan kita tunggu perkembangan seterusnya," kata Hanik dikutip dari Kompas pada Kamis (9/7) lalu.

Hanik melanjutkan, berdasar data dari alat pengamatan milik BPPTKG Yogyakarta di Babadan, Magelang, Jawa Tengah, proses penggembungan terdeteksi setelah erupsi pada 21 Juni 2020. "(Penggembungan) 0,5 sentimeter per hari, itu sejak 22 Juni kemarin, jadi setelah erupsi. Artinya magma semakin ke atas," urainya.


Infografis perbandingan deformasi merapi dari tahun-tahun sebelumnya. (Instagram @bpptkg)

Menurutnya laju penggembungan tubuh Gunung Merapi saat ini masih kecil dibandingkan 2010. Saat itu, menurut Hanik, tubuh Gunung Merapi mengalami penggelembungan rata-rata 30 sentimeter sampai 40 sentimeter per hari. "Jangan dibayangkan erupsi Merapi itu seperti 2010 ya. 2010 dari Kaliurang itu 120 sentimeter selama satu bulan," tegasnya.

Oleh karenanya, ia juga mengimbau masyarakat tidak perlu panik. Status Gunung Merapi juga masih ada di Level II atau Waspada. Jarak aman masyarakat untuk beraktivitas adalah sekitar 3 kilometer dari puncak gunung merapi.


Sementara Fuad sebagai Komandan Tim Disaster and Emergency Response (DER) Aksi Cepat Tanggap (ACT) – Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta mengatakan, saat ini berbagai instansi terkait telah bersiaga. Berbagai persiapan pun telah dilakukan.

“Mulai Rabu (8/7) kemarin beberapa stakeholder sudah meningkatkan kesiapsiagaannya. Mulai dari pemantauan jalur evakuasi dan piket jaga juga sudah digulirkan. Untuk skenario penyelamatan dan rencana kontijensi kembali digodok,” jabar Fuad.

ACT sendiri saat ini masih melakukan pengamatan melalui Pos Aju DER – ACT DI Yogyakarta. Sehingga jika diperlukan, tim dapat langsung merespons. “Walaupun merapi statusnya waspada para pegiat penanggulangan bencana memang harus satu langkah di depan. Sementara kita baru monitor dan pemantauan di lereng dan Pos Aju DER – ACT Yogyakarta yang ada di Kelurahan Muja Muju, Umbulharjo. Insyaallah, kita bisa turun jika diperlukan,” kata Fuad. []