Sejarah Awal Kewajiban Zakat

Zakat merupakan ibadah yang memiliki sejarah panjang. Meski ayat Al-Qur’an yang menyebut kata zakat sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW masih di Mekah, namun kewajiban zakat baru ada setelah Nabi hijrah ke Madinah.

sejarah zakat
Ilustrasi. Zakat yang Sahabat Dermawan tunaikan melalui Global Zakat-ACT salah satunya digunakan untuk membantu ekonomi para dai prasejahtera di pelosok negeri. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Kewajiban zakat yang merupakan Rukun Islam ketiga memiliki sejarah yang panjang, dari Nabi Muhammad masih di Mekah hingga beliau hijrah ke Madinah. Sejarah zakat dimulai saat ayat Al-Qur’an tentang zakat telah diturunkan saat Nabi Muhammad SAW masih di Mekah. Kata zakat sudah digunakan dalam ayat-ayat Makiyah seperti pada Al-Qur’an surat Al-Rum ayat 39, Al-Naml ayat 3, Luqman ayat 4, Al-Mukminun ayat 4, Al-A'raf ayat 156, dan Fushshilat ayat 7. 

Meski ayat-ayat tentang zakat sudah diturunkan sejak Nabi SAW masih di Mekah, namun disyariatkannya zakat baru ada setelah Nabi hijrah ke Madinah. Sebelum zakat disyariatkan, sejak awal, Islam di Mekah telah menanamkan kesadaran orang-orang Islam, bahwa ada hak-hak orang yang kekurangan dalam harta mereka. 

“Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta,” Q.S Al-Dzariyat ayat 19. 

Kementerian Agama dalam buku Panduan Zakat Praktis mengungkapkan, zakat yang turun dalam ayat-ayat Makiyah tidak sama dengan zakat yang diwajibkan di Madinah. Di mana nisab dan besarnya sudah ditentukan, orang-orang yang mengumpulkan dan membagikannya sudah diatur, dan negara bertanggung jawab mengelolanya.

“Ayat-ayat yang turun di Madinah sudah menjelaskan bahwa zakat itu wajib dalam bentuk perintah yang tegas dan instruksi pelaksanaan yang jelas. Salah satu surat yang terakhir turun adalah At-Taubah yang juga merupakan salah satu surat dalam Al-Qur'an yang menumpahkan perhatian besar pada zakat,” tulis Kemenag dalam buku tersebut. 

Zakat fitrah mulai diwajibkan pada tahun ke II Hijriah (623 M) sejalan dengan perintah salat. Tak lama setelah zakat fitrah, juga diwajibkan zakat harta (mal) dan menentukan harta-harta yang wajib dizakati, berikut kadar-kadarnya.

Pada tahun 9 Hijriah, turunlah ayat 60 surat At-Taubah, berisi siapa yang berhak menerima zakat. Namun pada masa itu, nabi tidak serta merta membagi zakat penuh untuk delapan golongan, namun hanya memberikannya kepada golongan tertentu yang dipandang perlu menurut kebutuhan dari delapan kelompok yang berhak. 

Ibn Hajar dan Imam al-Rafi menjelaskan pada masa Umar bin Abdul Aziz (salah satu khalifah Bani Umayah) pelaksanaan zakat diperuntukkan bagi mereka yang sudah pikun dan lumpuh, juga untuk orang-orang miskin yang berpenyakit yang tidak mampu bekerja, lalu si miskin yang meminta-minta dan membutuhkan makanan (sehingga terpenuhi kebutuhan mereka dan sesudahnya tidak minta lagi). 

Bahkan Imam al-Zuhri memerintahkan kepada Umar bin Abdul Aziz untuk membagikan zakat kepada fakir miskin yang memiliki hutang, juga kepada para musafir yang tidak memiliki keluarga dan kehabisan bekal sampai ia mendapatkan tempat tinggal yang layak.[]