Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Bahas Kelanjutan Nasib Pengungsi Rohingya di Aceh

Sejumlah lembaga kemanusiaan membahas kelanjutan dari nasib para pengungsi Rohingya yang sampai ke Aceh Utara. Tempat tinggal dan suplai makanan menjadi salah satu persoalan utama yang dibahas. ACT sebagai salah satu lembaga yang hadir, menginisiasi Dapur Umum untuk para pengungsi selama 30 hari ke depan.

Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Bahas Kelanjutan Nasib Pengungsi Rohingya di Aceh' photo
Pengungsi etnis Rohingya beristirahat setelah tiba di pesisir pantai Lancok, di Kabupaten Aceh Utara, Kamis (25/6/2020). Hampir 100 orang etnis Rohingya, termasuk 30 orang anak-anak ditemukan terdampar di tengah laut dengan kondisi kapal rusak. (AFP/Chaideer Mahyuddin)

ACTNews, LHOKSEUMAWE – Merespons puluhan pengungsi Rohingya yang telah melabuh di Aceh Utara, sejumlah lembaga kemanusiaan setempat mengadakan pertemuan. Salah satunya adalah Aksi Cepat Tanggap. Rapat pada Jumat (26/6) malam itu membahas rencana keterlibatan setiap lembaga serta dukungan untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi dalam beberapa minggu ke depan.

“Dari setiap lembaga menyampaikan bentuk dukungan masing-masing dalam hal pemenuhan kebutuhan pengungsi selama masa response, sebelum adanya keputusan pasti terkait keberlanjutan kepengurusan pengungsi Rohingya,” ujar Thariq Farline selaku Kepala Cabang ACT Lhokseumawe pada Sabtu (27/6) ini.

Pertemuan malam itu dihadiri pula oleh perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Suplai makanan dan tempat tinggal menjadi salah satu prioritas yang dibahas dalam pertemuan.

“Saat ini pengungsi berada di bekas Kantor Imigrasi Desa Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Kemungkinan akan dipindahkan kembali dalam beberapa hari ini ke lokasi lain. Suplai makanan bagi pengungsi juga belum ada yang menangani. Pemerintah pun khawatir persoalan ini jika dibiarkan berlarut akan menjadi dampak yang buruk bagi pengungsi,” Thariq menjelaskan.


Pertemuan lembaga-lembaga kemanusiaan dalam membahas kelanjutan nasib para pengungsi Rohingya di Aceh Utara dalam beberapa meinggu ke depan. (ACTNews)

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sebagai salah satu lembaga yang hadir pada malam itu, mengambil peran untuk menyediakan makanan pokok para pengungsi melalui Dapur Umum. Rencananya Dapur Umum ACT akan aktif siang ini dan akan berjalan selama 30 hari ke depan.

Selain itu, skema pemberdayaan akan dijalankan dalam program ini. ACT akan membeli bahan-bahan makanan dari masyarakat setempat sehingga tidak hanya kebutuhan para pengungsi yang terpenuhi, tetapi ekonomi masyarakat juga dapat berjalan.

“ACT berinisiatif mengambil peran untuk memenuhi kebutuhan makan para korban konflik kemanusiaan ini selama 30 hari ke depan. Berkaitan dengan produksi makanan, kita memakai skema  memberdayakan masyarakat. Rencananya bahan-bahan makanan akan kita order dari masyarakat sekitar. Harapannya dengan skema ini, ekonomi sekitar pengungsian bisa bergulir juga,” jabar Thariq.


Sementara pada Sabtu (27/6) siang ini, setiap lembaga akan datang ke lokasi bersama Wakil Walikota Lhokseumawe untuk meninjau kondisi Pengungsi. Akan dilakukan juga pembentukan posko dan manajemen posko oleh lembaga-lembaga dan instansi terkait.

Seperti telah diberitakan sebelumnya Rabu (24/6) lalu, sebuah kapal terombang-ambing di perairan Aceh Utara. Kapal itu memuat 94 warga etnis Rohingya di Myanmar dengan rincian 15 laki-laki dewasa, 49 perempuan dewasa, dan 30 anak-anak. Sampainya mereka di lautan Nusantara bukan tanpa sebab, konflik kemanusiaan yang menimpa mereka menjadi alasan pelayaran tersebut. Mereka ditampung sementara dan telah menjalani tes cepat Covid-19 untuk memastikan kondisi kesehatan mereka di tengah pandemi sekarang ini. Kebutuhan makan mereka pun dipenuhi.

ACT sendiri pada Kamis (25/6) malam kemarin telah mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi. Hidayatullah dari tim Program ACT Lhokseumawe mengatakan, bantuan tersebut berupa makanan siap saji, air mineral, beras serta perlengkapan anak-anak. “Pengiriman bantuan dilakukan oleh tim ACT serta Masyarakat Relawan Indonesia, kami juga melakukan pembersihan tempat yang dijadikan penampungan,” jelas Hidayatullah. []


Bagikan