Sekolah Darurat ACT Mulai Pulihkan Pendidikan di Donggala

Sekolah Darurat ACT Mulai Pulihkan Pendidikan di Donggala

Sekolah Darurat ACT Mulai Pulihkan Pendidikan di Donggala' photo

ACTNews, DONGGALA - Lalu lalang jalan sekitar Palu, Sigi, Donggala kembali ramai akan anak berseragam putih-merah. Pemandangan ini sudah terlihat sejak Senin (15/10) lalu, tanda siswa SD mulai kembali bersekolah. Tidak hanya siswa SD, siswa SMP dan SMA pun kembali melakukan proses belajar-mengajar.

Sebelumnya, pascabencana gempa yang melanda Sulawesi Tengah, pendidikan di wilayah terdampak berhenti sejenak. Hal ini mengingat guru dan murid juga menjadi korban bencana akhir September silam.

 

Akan tetapi, sampai saat ini proses belajar-mengajar masih belum efektif dilakukan. Fisik bangunan sekolah yang mengalami kerusakan. Salah satunya ada di Sekolah Dasar Negeri 13 Sirenja. Sekolah yang berada di Kabupaten Donggala ini kondisi bangunannya mengalami kerusakan berat, sehingga mengancam murid dan guru yang berada di dalamnya jika tetap digunakan. “Bangunannya sudah tidak layak karena gempa,” ungkap Mir’atun, salah satu guru SDN 13.

Melihat kondisi fisik sekolah yang mengalami kerusakan, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendirikan sekolah darurat guna mendukung kegiatan belajar. Sejak Senin (22/10), ACT melalui Posko Wilayah Sirenja mendirikan sekolah darurat di SDN 13 Sirenja. Sekolah sementara ini berdiri di pelataran rumah salah satu warga yang masih baik keadaanya.

 

Lokasi tersebut dipilih untuk menghindari bangunan sekolah yang dikhawatirkan roboh sewaktu-waktu. “Awalnya di lapangan, tapi terlalu dekat dengan bangunan sekolah. Makanya dipindah ke sini. Di sini juga dibawah pohon, bisa meredam panas,” tambah Mir’atun.

Walau sudah berjalan dua pekan lamanya, murid yang datang belum seluruhnya masuk kelas. Sebagian besar dari mereka masih dibawa mengungsi di atas bukit yang jauh dari sekolah oleh keluarganya. Begitu pula dengan waktu sekolah yang singkat, yakni hanya berlangsung dari pukul 08.00 hingga 11.00 WITA.

 

“Total murid kami 178 orang, dan hari ini baru 59 orang yang masuk. Tidak menentu murid yang datang, mereka masih trauma dan memilih tidak masuk sekolah karena gempa susulan yang masih sering terjadi,” tutur Mir’atun, yang berkaca-kaca menceritakan kondisi tempatnya mengajar.

Selain itu, seragam yang sesuai pun belum diterapkan. Murid-murid yang hadir hanya mengenakan pakaian sehari-hari. Gempa bermagnitudo 7,4 dengan peringatan tsunami membuat murid dan guru tak sempat menyelamatkan harta benda yang banyak, termasuk pakaian seragam.

Setelah berdirinya sekolah darurat ACT di SDN 13 Sirenja ini, Mir’atun berharap seluruh muridnya dapat bersekolah lagi. Orang tua pun diharapkan dapat mendukung untuk mengurangi trauma anak-anak. Kebutuhan pendidikan menjadi prioritas untuk mempercepat proses pemilihan pascabencana. “Lewat pendidikan, anak-anak akan mengerti untuk menyelamatkan diri dari bencana,” tambah Mir’atun.

Tak hanya di SDN 13 Sirenja, sekolah darurat pun didirikan di SMPN 3 Sirenja dan SMAN 1 Sirenja. Sekolah darurat ini untuk sementara akan menggantikan bangunan sekolah yang mengalami kerusakan dan harus direnovasi secara keseluruhan. “Pendampingan untuk dukungan psikososial juga kami berikan,” kata Koordinator Posko ACT Wilayah Sirenja Lukman Solehuddin, Selasa (23/10). []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan