Sekolah Darurat Menjadi Upaya Kampung Wates Berdaya Saat Bencana

Semenjak akses jalan utama di Kampung Wates, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, terputus akibat longsor, orang tua siswa agak khawatir dengan keselamatan anak mereka yang harus melewati wilayah rawan longsor setiap sekolah. Warga kemudian mendirikan Sekolah Darurat untuk menampung anak-anak.

Sekolah Darurat Menjadi Upaya Kampung Wates Berdaya Saat Bencana' photo
Bangunan Sekolah Darurat yang ada di Kampung Wates, Kabupaten Bogor. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BOGOR – Aas semringah melihat anaknya, Muhammad Yusuf Al Furqan, mengikuti pelajaran di Sekolah Darurat Kampung Wates. Aas mengintip dari balik jaring-jaring yang terbuat dari kawat dan difungsikan sebagai dinding-dinding kelas. Di bawah kelas beratapkan terpal berwarna oranye itu, Yusuf bersama kawan-kawannya belajar berhitung.

“Dari tahun kemarin, saya sudah berniat daftarkan anak saya di PAUD di bawah kampung, bahkan sudah isi formulir. Letaknya sekitar 2 kilometer menuruni jalan. Tapi awal tahun ini jalannya tertutup longsor, jadi batal,” kisah Aas kepada ACTNews pada Rabu (19/2) lalu.

Kampung Wates, Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor merupakan salah satu desa terdampak ketika hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah Jabodetabek pada pergantian tahun lalu. Setelah hujan itu, mereka lalu melewati dua hari dengan longsor yang terjadi berkali-kali di berbagai titik di sekitar desa.

“Jadi satu hari itu kita bisa dengar ada beberapa kali bunyi longsor. Bunyinya seperti gemuruh begitu,” kata Dodi, salah satu warga.

Di hari kedua bencana, warga menyadari bahwa jalan bagian atas maupun bawah desa, tertimbun longsor hingga tertutup sama sekali. Warga terisolir. Jalan hanya bisa diakses dengan berjalan kaki, itu pun dengan kondisi tanah berbahaya karena masih rawan longsor.

Pada 6 Januari lalu, Dodi dan warga sekitar akhirnya mendirikan Sekolah Darurat Kampung Wates, mengingat jalan ke sekolah belum dapat diakses. Ide untuk mendirikan sekolah ini sebenarnya sudah pernah tercetus sebelum bencana.


Aktivitas salah satu kelas di Sekolah Darurat. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Beberapa bulan sebelum bencana, masyarakat sepakat untuk maju. Kemajuan masyarakat ini kita buat rinci lagi dalam gerakan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan hidup. Cuma memang, buah dari gerakan masyarakat ini terlalu cepat, akibat bencana ini,” jelas Dodi. Aksi Cepat Tanggap (ACT) ikut hadir pada saat itu. Tim memberikan bantuan tenaga untuk mendirikan bangunan sekolah serta menyalurkan alat-alat untuk sarana pembelajaran anak-anak.

Sekolah Darurat akhirnya melayani kebutuhan pendidikan anak-anak Kampung Wates selama bencana. Tidak hanya PAUD, tapi juga anak-anak SD ikut belajar di sana. Hal ini mengingat kebanyakan orang tua tidak ingin anaknya pergi sekolah di tengah jalan yang rawan longsor. Seperti yang terpikir oleh Siti Zubaidah, salah satu pengajar di Sekolah Darurat.

“Istilahnya saya kan juga punya anak, dan anak saya sekolah juga di bawah. Saya khawatir kalau dia jalan sendiri. Setelah bencana, dia sempat libur, Sampai sekarang walaupun sudah aman juga, tetap ada yang mengantar pergi ke sekolah. Antara saya atau bapaknya,” kata Siti.

Jalan menuju ke atas maupun bawah desa kini kembali bersih. Daerah-daerah rawan longsor juga telah ditembok sementara menggunakan batu-batu besar yang disusun semikian rupa untuk menahan tanah. Jalan relatif aman, siswa juga telah kembali beraktivitas normal, meski sebagian orang tua masih khawatir dan memilih mengantar anak mereka ke sekolah.

Namun, Sekolah Darurat masih bertahan. Dengan 34 anak yang keseluruhannya adalah anak PAUD, sekolah ini masih beraktivitas dari jam 8 hingga 10 pagi. Anak-anak terlihat bahagia. Belajar berhitung, membaca, dan berdoa, sekalipun hanya di dalam sekolah yang sederhana.

“Anak saya juga lebih senang sekolah di sini. Lagipula kalau saya harus turun ke bawah kan lumayan jauh juga. Jadi lebih baik anak saya belajar di sini saja,” ungkap Aas yang memilih membatalkan mendaftarkan anaknya di PAUD bawah desa.

Respons masyarakat ini yang disenangi oleh Dodi. Apa yang dibangun oleh masyarakat, akhirnya didukung oleh masyarakat sendiri. Besar harapan Dodi pada akhirnya Sekolah Darurat adalah persiapan masyarakat untuk sekolah permanen. Sehingga, mempermudah akses pendidikan di Kampung Wates.

“Harapan saya banyak orang-orang yang peduli dan bermunculan hadir, untuk mendampingi kita. Karena memang jujur, kita belum bisa berdiri sendiri. Kita berharap bisa mandiri dari sisi ekonomi, dan anak-anak muda di wilayah kita bisa membangun kampungnya sendiri,” ujar Dodi. []


Bagikan