Sekolah di Gaza Berkabung atas Siswa yang Wafat oleh Serangan Israel

Sekolah dasar di Gaza, al-Qahira menampilkan foto dan sertifikat tiga muridnya yang menjadi korban ledakan bom zionis Israel. Ketiga murid tersebut adalah Dana, Mira, dan Rafiqa yang tewas di Jalan al-Wahda, pusat Kota Gaza, Mei lalu.

anak-anak di Gaza meninggal dunia karena serangan Israel
Sertifikat tiga murid yang tewas dalam serangan Gaza. (Twitter/Ahdaf Soueif)

ACTNews, GAZA – Pengeboman melalui udara yang dilakukan angkatan bersenjata Israel pada Mei lalu ke Gaza telah menghancurkan kehidupan anak-anak. Sejumlah 66 di antara 248 warga Gaza yang menjadi syuhada adalah anak-anak.

Anak-anak, yang juga menjadi siswa juga mengalami gangguan pendidikan. Setelah beberapa kali sekolah ditutup akibat lonjakan kasus Covid-19, kini hambatan aktivitas belajar mengajar semakin diperparah serangan zionis Israel yang turut menghancurkan sekolah. Sekitar 187 sekolah hancur total dan rusak sebagian akibat terkena ledakan.

Salah satu sekolah dasar di Gaza, al-Qahira menampilkan foto dan sertifikat tiga muridnya yang menjadi korban ledakan bom zionis Israel. Ketiga murid tersebut adalah Dana, Mira, dan Rafiqa yang tewas di Jalan al-Wahda, pusat Kota Gaza, Mei lalu. Kegiatan ini dilakukan sebagai simbol berkabungnya pihak sekolah atas meninggalnya putri-putri terbaik mereka.

“Tiga malaikat kecil yang cantik itu seharusnya mendapatkan sertifikat sekolah mereka hari ini, tetapi mereka melewatkannya karena Israel membunuh mereka. Semoga kalian dapat bebas dan aman di surga,” tulis Omar Ghraieb salah satu wartawan yang bertugas di Gaza seperti dikutip laman Middle East Eye.

Mira adalah siswa yang dikenal memiliki cita-cita sebagai seorang dokter gigi. Profilnya telah banyak tersebar di media-media. Dana, siswi itu meninggal bersama tiga saudara kandung dan ibunya. Mereka meninggal saat  mengenakan pakaian baru Idulfitri.

Sementara itu, para ahli di bidang konflik dan trauma mengatakan, serangan Israel pada Mei lalu menyebabkan psikologis warga Palestina terganggu, khususnya anak-anak. Anak-anak Palestina berisiko mengalami kesehatan mental yang buruk efek serangan tersebut. Kondisi itu bisa mereka alami dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Di Gaza, lebih dari 40 persen populasi adalah anak-anak di bawah usia 14 tahun. Diperkirakan, ada ribuan anak di Gaza yang menderita trauma akibat agresi 11 hari zionis Israel. Berdasarkan data UNICEF, sebelum serangan 11 hari terjadi, jumlah anak yang mengalami gangguan kesehatan mental cukup tinggi, yang mana 1 dari 3 anak di Gaza membutuhkan dukungan psikososial serta terapi kesehatan. Jumlah ini diperkirakan meningkat pascaserangan Israel.[]