Sekolah Tutup, Usaha Yusrian Tak Ada Pembeli

Sebagai penjual nasi dan kue basah di sekolah, usaha Yusrian Harus tutup seiring berhentinya kegiatan belajar mengajar di sekolah. “Biar enggak rugi, akhirnya saya dagang berkeliling di wilayah Banda Sakti pakai sepeda,” ujar ibu lima anak ini.

Yusrian saat pulang dari berjualan. (ACTNews)

ACTNews, LHOKSEUMAWE — Yusrian Rani (58) adalah salah satu pedagang yang terdampak pandemi Covid-19. Sebagai penjual nasi dan kue basah di sekolah, usaha Yusrian Harus tutup seiring berhentinya kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Biar enggak rugi, akhirnya saya dagang berkeliling di wilayah Banda Sakti pakai sepeda,” ujar ibu lima anak ini, Kamis (25/3/2021). Meski kondisi tubuh Yusrian sudah tidak prima, ia harus tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah berkeliling seharian, Yusrian paling besar memperoleh omzet sebesar Rp50 ribu.

Dalam memenuhi kebutuhan hidup, Yusrian pun tidak pernah meminta bantuan kepada anak-anaknya. Ia beranggapan tidak ingin merepotkan keempat anaknya karena mereka sudah menikah. 

“Saya ingin mengembangkan usaha, namun belum ada modal. Kalau pun ada pinjamanan, semoga tidak ada bunga,” lanjutnya.

Hidayatullah dari Tim Program ACT Lhokseumawe menjelaskan, Yusrian adalah salah satu pedagang kecil yang membutuhkan dukungan modal. Hidayatullah berharap, banyak dermawan yang bisa mendukung ikhtiar Yusrian.

“Mari salurkan bantuan modal usaha bagi para pejuang usaha mikro melalui Global Wakaf-ACT di program Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia. Insyaallah ikhtiar ini dapat meringankan beban mereka yang terdampak pandemi Covid-19,” kata Hidayatullah.[]