Selain Kelola Lahan, Siti Juga Tekuni Dagang demi Kebutuhan

Siti Sopiah (48) sejak lama menggeluti dua usaha: bertani dan berdagang nasi uduk. Namun penghasilan kedua usaha itu harus lebih kencang lagi semenjak pandemi, setelah suaminya berhenti bekerja dan kebutuhannya ikut bertambah.

Siti Sopiah (48) sedang berdagang nasi uduk bersama suaminya. (ACTNews/Akbar)

ACTNews, KARAWANG – Selepas magrib dan semakin malam, justru semakin ramai orang mengantre untuk membeli nasi uduk. Siti Sopiah (48) bersama suaminya terlihat sibuk mengambilkan semur, bihun, ataupun telur balado untuk para pelanggannya. Terbukti cerita Siti sesaat sebelum berjualan, “Kalau di sini mah, enggak seperti jualan di kota. Kita jualan sampai hampir subuh juga masih ada pelanggannya,” jelas warga Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta, Karawang ini.

Demikian memang yang harus dijalani Siti. Setiap harinya ia berjualan nasi uduk sejak magrib hingga pukul 3 pagi. Pelanggannya mulai dari warga biasa, para pemuda yang biasa begadang, hingga para pedagang yang hendak berangkat ke pasar sebelum subuh.

Dari jam 5 atau setengah 6 sorelah (persiapan). Selesai salat magrib, baru kita buka sampai jam 3 pagi atau setengah 4 pagi. Pendapatannya paling Rp300 ribu, atau Rp 350 ribu. Dari modal paling saya kebagian Rp80 ribu. Alhamdulillah, dicukup-cukupin aja. Kita juga enggak pingin beli apa-apa, yang penting kita bisa makan, nyambung-nyambung (hidup) lah,” ungkap Siti pada Rabu (11/11) lalu.

Untuk kebutuhan sehari-hari, memang nasi uduklah penopang usaha Siti. Tapi untuk kebutuhan lainnya, Siti tetap mengandalkan dua petak sawah miliknya yang hingga kini masih ia garap dengan menyewakan pekerja harian. “Kalau tani aja enggak cukup, jadi tambah-tambahnya, saya jualan aja. Kalau tani aja kan pegang uangnya cuma enam bulan sekali. Kalau kita enggak dikembangin dagang enggak cukup yang ada ngutang-ngutang. Enggak bisa (kayak gitu). Ya udah daripada kayak gitu mending dikembangin aja. Modal Rp300 ribu (sehari) juga alhamdulillah (hasilnya),” jelas Siti.


Siti Sopiah sedang menceritakan kisahnya yang mengurus dua pencaharian sekaligus. (ACTNews/Akbar)

Walaupun tak mengurus langsung lahan pertaniannya, dua pekerjaan jadi beban juga buat Siti. “Ya capek mah, ada. Cuma ya bagaimana? Sudah tugas saya seorang ibu yang urus tani juga. Tapi alhamdulillah kalau buat tani, kita buat makan berasnya enggak beli. Cuma lauk-pauknya kan kita yang harus cari sendiri. Tambah-tambahnya, ya, saya dagang,” ucapnya.

Tapi kerja keras harus ia lalui juga. Terutama semenjak suaminya berhenti bekerja sebagai pengemudi ojek daring di Jakarta sana. Sudah berbulan-bulan berlalu semenjak pandemi, dan kini suaminya belum mendapatkan pekerjaan lagi. Walhasil, ia pulang dan mengelola kedua usaha itu bersama istrinya. Pengeluaran pun jadi lebih banyak setelah pandemi. Apalagi kalau sapai gagal panen. Tak jarang ia meminjam modal dari saudaranya.

Paling pinjam ke saudara, timbang gopek kalau ada kekurangan. Soalnya suka ada hama tikus. Kan kita tanam lagi, tambah lagi sedikit. Enggak mau kalau ke bank emok (rentenir). Enggak mau ribet, enggak mau ditagih-tagih. Soalnya enggak biasa minjem ke yang begitu-begituan. Ya begitu (ada bunganya), takut enggak kebayar, nanti bagaimana?” tanya Siti.

Terkadang modal terasa sangat mendesak. Tetapi gayung pun bersambut saat Global Wakaf – ACT mengantarkan amanah dermawan lewat program Wakaf Modal Usaha Mikro untuknya pada September lalu. Modal itu kemudian ia gunakan untuk bertanam pada musim ini.


“Itu kemaren beli keperluan tani
aja. Yang saat ini difokuskan soalnya ke sawah. Kalau nasi uduk ini sambilan aja. Alhamdulillah pak, saya ngerasa kebantu. Daripada kita minjem ke orang lain atau ke rentenir, bagaimana? Mending kita pakai yang itu (Wakaf Modal Usaha Mikro) aja,” ujarnya.

Selain mendapatkan modal usaha, ke depannya para petani juga akan mendapatkan pendampingan dan edukasi dari Tim Global Wakaf – ACT. Demikian yang diungkap Ayu Riadiningsih selaku pendamping. “Selama ini baru pendampingan individu, dan rencana nantinya kita akan adakan pertemuan kelompok rutin untuk para penerima manfaat. Akan ada edukasi-edukasi dan kegiatannya lebih besar di kegiatan rohani, karena kalau untuk teknis pertanian para petani penerima manfaat ini sebenarnya sudah cukup menguasai,” ucap Ayu.

Ayu pun berharap melalui program Wakaf Modal Usaha Mikro akan lebih banyak petani lagi yang terberdayakan. “Saat ini ada 32 petani yang ada dalam program ini. Tentunya kita berharap program ini semakin meluas karena masih banyak petani prasejahtera, khususnya di Desa Ciptamarga, yang kesulitan salah satunya mengenai permodalan. Untuk itu kami mengajak para dermawan berkolaborasi dengan kami melalui program ini,” ajak Ayu. []