Selain Kerusakan, Banjir Sisakan Trauma di Desa Alat

Warga sempat lari ke perbukitan terdekat dan ketika turun mendapati rumahnya lenyap tak bersisa. Selain kerusakan, banjir juga menyisakan trauma sehingga warga sering kali kembali berlari ke bukit saat hujan deras.

Salah satu jalan di pengungsian Desa Alat, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, HULU SUNGAI TENGAH – Mendung masih menggelayut sementara di bawah tenda-tenda pengungsian masih berdiri. Tadinya di atas tenda-tenda itulah rumah warga Desa Alat, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah berdiri. Namun sekitar dua pekan lalu, banjir membawa hanyut rumah mereka dan tak tanggung-tanggung, beberapa hilang sekaligus tanahnya.

“Air sudah masuk belakang rumah, lari saja langsung ke atas bukit. Cuma baju selembar, kerudung, sudah lari saja tidak ingat apa-apa,” Arsiah (53) salah seorang warga menceritakan kejadian di malam pertama banjir di mana ia dan keluarga melarikan diri ke Perbukitan Meratus.

Keesokan hari Arsiah turun dari bukit dan mendapati rumahnya tinggal lantai. Sempat awal-awal turun ia bahkan tak punya tenda untuk meneduh sehingga tidur di bawah pohon atau gardu. “Air saja enggak ada, minum enggak ada, makan enggak ada. Tiga hari setelah itu baru ada bantuan pangan. Selama belum ada bantuan, dibantu keluarga-keluarga yang enggak terkena banjir,” kata Arsiah pada Ahad (31/1/2021).

Tinggal di pengungsian yang masuk dalam zona merah, Arsiah sampai sekarang masih takut akan kejadian yang sama. Perasaannya ingin lari kembali ke bukit jika hujan deras mengguyur. Ketakutan yang sama juga dialami oleh Masdinah (35). Rumah Masdinah tak tersapu, hanya ambruk di bagian dapur. Meskipun begitu, semua barang-barangnya tak selamat sebab terendam malam itu.


Salah satu rumah yang sedang dibangun kembali di Desa Alat. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Kalau hujan kan takut malam-malam ini. Kalau tidur juga tidak bisa, yang dipikirkan kalau hujan deras lari saja ke atas bukit. Sekarang-sekarang juga masih suka lari,” katanya. Tak hanya ia sendiri, anaknya pun kini suka ketakutan sampai menggigil bila disuruh bangun untuk ikut lari ke perbukitan. Hal itu kerap membuat Masdiah sedih.

“Kadang kalau dikasih uang sama orang (donatur), lalu ditanya ‘Buat apa nak uangnya?’ dijawab buat beli paku, buat mama bikin rumah. Nangis kita ini mendengarnya. Buat beli rumah katanya biar kita lari saja, karena tidak enak lagi di sini,” kata Masdiah menirukan anaknya.


Hal yang sama diharap oleh Rahmi selaku Ketua RT 04 Desa Alat. Ia berharap warga Desa Alat dapat direlokasi dari lokasi yang sebelumnya mereka tinggali. “Kalau bisa diadakan pembebasan lahan untuk kami pindah dari tempat ini. Kan di sini sudah masuk zona merah,” ujar Rahmi.

Seiring dengan para pengungsi yang terus menata kehidupannya kembali, Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga berikhtiar mendukung. Termasuk dengan menjalankan Humanity Medical Service, pendampingan psikososial, hingga pendirian dapur umum. Bantuan-bantuan ini disambut baik oleh warga. “Kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada ACT dan kawan-kawan yang membantui kami di sini,” ujarnya. []