Selain Permukiman, Fasilitas Umum di Masamba Juga Terkubur Lumpur

Di tengah pandemi, Luwu Utara dihantam banjir bandang yang membawa material lumpur dengan tebal 2-4 meter. Tak hanya permukiman, fasilitas umum pun ikut terdampak.

Selain Permukiman, Fasilitas Umum di Masamba Juga Terkubur Lumpur' photo
SDN 019 Pongo di Masamba yang setengah bangunannya terkubur lumpur dari banjir bandang Masamba. (ACTNews)

ACTNews, LUWU UTARA – Banjir membawa material lumpur tebal yang terjadi di Kabupaten Luwu Utara dampaknya cukup luas. Lumpur yang saat ini perlahan kering tak hanya mengubur permukiman penduduk dan memaksa ribuan keluarga harus mengungsi. Akan tetapi, lumpur juga mengubur hingga setengah dari tinggi bangunan fasilitas umum. Tim Disaster Emergency Response ACT yang sedang bertugas di lokasi terdampak menemukan hal ini.

Salah satu fasilitas yang terkubur lumpur ialah SD Negeri 019 Pongo yang ada di Dusun Pongo, Desa Malimbu, Kecamatan Sabbang, Luwu Utara. Lumpur di titik ini tingginya mencapai 1,5 hingga 2 meter. Terdapat 9 ruang kelas yang semuanya juga dimasuki lumpur, semua barang yang ada di dalamnya pun mengalami kerusakan.

“Tebalnya lumpur sampai mengubur setengah dari bangunan sekolah,” jelas Andi Fajar Aswan dari Tim Disaster Emergency Response ACT, Sabtu (18/7).

Tim tiba di SDN 019 Pongo saat melakukan lanjutan evakuasi serta pencarian korban yang masih dinyatakan hilang. Lumpur tebal saat ini mulai kering dan mengeras, sehingga bisa untuk dilintasi kendaraan bermotor. Selain mengubur sekolah, banjir bandang yang terjadi pada Senin (13/7) malam itu juga mengubur Masjid Agung Syuhada Masamba.

Dari data yang dikumpulkan Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) - ACT per 18 Juli, kerusakan meliputi 4.930 rumah, 13 rumah ibadah, 9 sekolah, 8 fasilitas kesehatan, 7 jembatan, 6 ruas jalan, 1 pasar tradisional, 1 bandar udara, serta ratusan hektare lahan pertanian dan perkebunan. Luasnya titik yang terdampak mencakup 6 kecamatan di kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan itu.

Sabtu (18/7), relawan ACT telah berangkat ke tiga titik terparah terdampak banjir bandang disertai lumpur tebal di Desa Salulemo, Masamba dan Maifi. Tim akan melalukan asesmen untuk menentukan bantuan yang akan dikirim sekaligus melakukan pencarian korban yang masih dinyatakan hilang.

Lukman Solehudin dari Tim Disaster Emergency Response ACT yang ditugaskan di Luwu Utara mengatakan, sampai hari ini warga terdampak masih sangat membutuhkan bantuan. “Makanan siap santap yang saat ini sangat perlu dipenuhi karena warga tak bisa mengolah makanan mentah dengan keadaan seperti sekarang. Di samping itu pengungsi juga membutuhkan air bersih, alat kebersihan, perlengkapan bayi, selimut serta obat-obatan. Warga juga masih bingung akan kembali ke mana setelah bencana ini karena tebalnya lumpur yang mengubur rumah-rumah mereka,” jelas Lukman, Sabtu (18/7). Banjir di Luwu Utara menyisakan lumpur tebal dengan ketinggian bervariasi, bahkan ada yang mencapai empat meter.[]


Bagikan