Selama 2018, Sekitar 1.000 Anak Menjadi Korban Perang di Suriah

Badan PBB untuk Anak-anak melaporkan sebanyak 1.106 anak korban perang di Suriah meninggal dunia sepanjang tahun 2018.

Selama 2018, Sekitar 1.000 Anak Menjadi Korban Perang di Suriah' photo
Kondisi kamp pengungsian di Qah, Idlib, setelah serangan udara menghantam wilayah tersebut Rabu (20/11) malam. (Anadolu Agency)

ACTNews, IDLIB – Sebanyak 1.106 anak meniggal dunia akibat perang di Suriah pada  2018. Data itu dilaporkan Badan Anak-anak PBB pada pekan ini sebagaimana diwartakan VOA, Kamis (21/11). Tahun 2018 disebut sebagai tahun paling mematikan bagi anak-anak sejak perang berkecamuk di Suriah pada 2011 lalu.

Tahun 2019 pun masih menjadi mimpi buruk bagi anak-anak Suriah. Baru-baru ini, sedikitnya 12 orang dilaporkan wafat akibat serangan yang mengguncang wilayah pengungsian sipil di Idlib, Rabu (20/11) malam. Sebuah rumah sakit bersalin dan di sekitar kamp mengalami kerusakan. Empat pekerja sosial juga dikabarkan terluka.

Ahmet Zidan, salah satu warga kamp pengungsian di Desa Qah, Idlib, megatakan kepada Anadolu Agency  bahwa penyerangan yang terjadi adalah genosida. “Orang-orang menyelamatkan diri dengan panik dan sebagian berlindung ke kebun zaitun,” kata Ahmet.

Serangan disebut menghantam pengungsian sipil, sebagaimana disebut pengungsi lainnya, Abu Ammar. "Segera setelah serangan, tenda kamp yang menjadi tempat tinggal sekitar 500 keluarga dievakuasi," tambah Ammar.

Selain ledakan yang terjadi Rabu lalu, keamanan di Idlib semakin memburuk dengan adanya penembakan. Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) melaporkan, tiga orang anak penerima manfaat dari bantuan yang diberikan dermawan selama ini turut menjadi korban.

“Sekolah binaan ACT di Suriah kehilangan tiga siswa-nya, mereka meninggal akibat penembakan dan 10 lainnya terluka. Kegiatan pendidikan di lokasi program tertahan karena situasi keamanan yang sulit, selain evakuasi kamp karena bahaya bom yang belum meledak. Ketakutan dan kepanikan didominasi oleh anak-anak dan perempuan,” terang Firdaus. []

Bagikan