Selamat Jalan Pahlawan Medis, Perjuanganmu Tak Ternilai

Kabar duka kembali datang dari tenaga medis yang menjadi garda terdepan penanganan Covid-19. Mereka yang dinyatakan terinfeksi, sebagian kini telah meninggal dunia.

Penyerahan apresiasi bagi Ari, perawat di Surabaya yang meninggal dunia akibat Covid-19. (ACTNews)

ACTNews, SURABAYA Lagi, tenaga medis harus mempertaruhkan nyawanya untuk menangani Covid-19 yang sedang mewabah di Indonesia. Kali ini kabar duka itu datang dari Surabaya, tepatnya dari Rumah Sakit Royal Surabaya. Rumah sakit tersebut kehilangan salah satu perawat terbaiknya, Ari Puspita Sari, yang meninggal dunia akibat infeksi virus corona, Senin (18/5).

Ari wafat di usia 26 tahun dan sedang mengandung usia empat bulan. Kabar duka ini meninggalkan kesedihan bagi keluarga Ari. Ia dimakamkan sesuai dengan prosedur tanpa dihadiri oleh keluarga demi meminimalisir penularan. Bahkan, sang suami, Septian Rizaldi, tak sempat melihat pemakaman istrinya karena ia sendiri harus menjalani isolasi mandiri.

Kabar duka ini pun mendorong Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jawa Timur bersama Kitabisa untuk menyerahkan apresiasi pada perjuangan Ari selama terlibat dalam dunia medis. Walau begitu, apresiasi ini tak akan pernah menggantikan besarnya perjuangan Ari. “ACT sangat mendukung keluarga agar ikhlas dan tabah dalam menghadapi cobaan ini,” ungkap Wahyu Sulistianto selaku Kepala Cabang ACT Jatim.

Apresiasi ini diserahkan pada Kamis (21/5) dan diterima oleh ayahanda almarhumah Ari, R. Njoko Wahyu Priadi. Ia menyampaikan terima kasih atas kepedulian banyak pihak ke almarhumah putrinya. Kesedihan masih tampak jelas dari raut wajah sang ayah. “Saya juga mengajak masyarakat untuk ikut membantu tugas tenaga medis dengan tetap di rumah saja, ini dilakukan demi kebaikan kita bersama,” ungkapnya.

Selama ini, tenaga medis jadi garda terdepan dalam penanganan wabah Covid-19. Akan tetapi, tak sedikit dari mereka yang juga menjadi korban meninggal karena kontak dengan penderita. Per 6 Mei lalu, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 mencatat sebanyak 55 tenaga medis, baik dokter maupun perawat, yang dinyakan meninggal dunia akibat infeksi virus ini.

Jumlah tenaga medis yang terus menjadi korban pun membuat miris keadaan. Pasalnya, merekalah yang kini menjadi ujung tombak penanganan secara medis, sedangkan masih banyak masyarakat yang tak mengikuti imbauan untuk memutus rantai penularan. Aksi Cepat Tanggap (ACT) sendiri sejak awal wabah ini melanda telah terlibat dalam penanganan, termasuk menyediakan perlindungan ke tenaga medis dengan bantuan alat pelindung diri. Harapannya, wabah segera mereda tanpa lagi memakan korban jiwa.[]