Selamatkan Petani Ubi, Panen Tahap Pertama Dilakukan

Berikhtiar membantu para petani ubi di Kabupaten Mojokerto, Aksi Cepat Tanggap bersama Global Wakaf dan YP3I menyinergikan wakaf pangan produktif dan sedekah petani. Langkah itu dimulai dengan memberi 1000 ton ubi para petani yang pada masa tanam ini jatuh harga dari Rp1.500 menjadi Rp200.

Santri taruna petani binaan YP3I Mojokerto bersama petani ubi Asmudji (baju biru, kiri) memanen ubi di ladang yang ditanam Amudji di Desa Cepolkolimo, Kecamatan Pacet, Jumat (5/2/2021). (ACTNews/Rhiannah)

ACTNews, KABUPATEN MOJOKERTO – Aksi Cepat Tanggap bersama Global Wakaf dan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia menargetkan panen 1.000 ton ubi dalam rangka membantu para petani di Mojokerto yang tengah merugi. Harga ubi di sejumlah kecamatan di Mojokerto anjlok pada musim panen yang tiba sekitar Desember-Januari lalu.

Mohammad Jakfar dari Tim Program Global Wakaf-ACT menerangkan, berdasarkan data yang dihimpun Global Wakaf-ACT, ubi hasil panen petani di Kecamatan Trawas dan Kecamatan Pacet hanya dihargai Rp200 per kilogram.

Panen ubi perdana ACT-YP3I dilakukan di sejumlah ladang di Desa Cepokolimo, Kecamatan Pacet, Jumat (5/2/2021). Ikhtiar 70 ton ubi dipanen dari ladang tersebut. Jakfar mengatakan, panen ubi akan dilakukan selama beberapa minggu ke depan.

Dalam membantu petani ubi melalui sedekah, ACT bersama Global Wakaf juga menyinergikan program Wakaf Pangan Produktif yang diperuntukkan bagi masyarakat melalui pesantren dan sedekah. “Tim kami terus melakukan asesmen ke petani-petani ubi yang membutuhkan dukungan. Di samping itu, kami juga langsung memanen ubi-ubi yang sudah siap. Insyaallah, hasil panen juga segera kami distribusikan ke target 3.000 pesantren di Jawa Timur, DIY, dan Jawa Tengah,” terang Jakfar.

Global Wakaf-ACT pun membeli ubi dengan harga terbaik, yakni seribu rupiah per kilogram. Selain membantu petani dari kerugian, Global Wakaf-ACT atas dukungan para dermawan juga membantu petani untuk segera menanam padi. Di Kecamatan Pacet, tanaman ubi bertumpang sari dengan padi yang masa tanamnya bergilir dalam setahun. “Sebab itu, kami terus membutuhkan dukungan dermawan agar sinergi program-program ini dapat berjalan dengan baik,” harap Jakfar.

Camat Kecamatan Pacet Mokhammad Malik juga hadir langsung saat ACT-YP3I panen ubi perdana ubi di Desa Cepokolimo. Ia mengapresiasi kerja sama yang dilakukan pesantren dan ACT. Malik berharap, sinergi seperti ini bisa dikembangkan, antara lain mengajak petani berinovasi dalam pengelolaan hasil panen.

“Alhamdulillah ACT peduli dengan petani sehingga harga tidak terlalu jatuh. Petani pun bisa segera menanam padi. Di sisi lain, perlu kita pikirkan juga mengenai hasil olahan tela, barangkali ACT atau pihak manapun bisa membantu dalam pengelolaan hasil panen ubi,” harap Malik.


Pak Laji (77), Petani Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Mojokerto. (ACTNews/Gina Mardani)

Petani ubi merugi di Januari

Kecamatan Pacet dan Trawas menjadi salah satu wilayah pariwisata di Kabupaten Mojokerto. Ubi menjadi komoditas yang kerap dijadikan oleh-oleh dari daerah ini. Selain cendera mata, ubi juga dipasok ke pabrik-pabrik pengolahan atau pengekspor komoditas ini. Namun, pandemi Covid-19 membuat panen ubi yang seharusnya dilakukan di Januari lalu tidak dapat terserap. Pabrik tutup dan pariwisata sepi. Petani jadi pihak yang paling dirugikan dari keadaan ini.

Asmudji (64) salah satu petani ubi di Desa Cepokolimo mengaku, karena hasil panen merugi, ia mencari pekerjaan tambahan dengan menanam bawang. “Tani (ubi) rugi ya cari usaha yang lain, bakul brambang. Jual bawang, ada penjual dari pasar yang mengambil ke saya,” kata Asmudji.

Ubi Asmudji yang seharusnya bisa dipanen awal Januari lalu pun baru terjual Februari ini oleh Global Wakaf-ACT. Ia pun bersyukur karena punya tambahan modal untuk bertanam padi di musim berikutnya. Ia berharap, ke depan, keadaan lebih bersahabat kepada petani. Di masa depan, bertani ubi pun akhirnya ia pertimbangkan jika komoditas ini mulai sepi peminat.[]