Selimut dan Matras untuk Warga Yaman Menghalau Dingin

Selimut dan Matras untuk Warga Yaman Menghalau Dingin

Selimut dan Matras untuk Warga Yaman Menghalau Dingin' photo

ACTNews, SANA’A - Akhir tahun memang identik dengan bulan-bulan dingin, terutama bagi negara-negara empat musim. Dingin di ujung tahun juga sedang dirasakan warga Yaman yang hingga sekarang hidup di balik hingar-bingar konflik sipil. 

Meski Yaman dikenal sebagai negara dengan gurun tropis yang luas, musim dingin tetap terasa di sana. Di Kota Sana’a sendiri, hangatnya musim dingin hanya ada pada siang hari dengan suhu tertinggi 23 derajat Celsius. Namun, pada malam hari suhu dapat menurun drastis, yakni tak pernah lebih dari 10 derajat Celsius. 

Akibatnya, cuaca dingin di Yaman menambah sulit warganya yang hingga sekarang masih menjadi pengungsi di negaranya sendiri. Kebanyakan dari mereka tinggal di tenda ala kadarnya, hanya terbuat dari terpal dan kain yang tidak mampu menghalau dingin. Tenda tipis itu juga tidak dilengkapi penghangat ruangan, maupun perlengkapan musim dingin yang memadai, seperti jaket atau selimut. 

Tim Sympathy of Solidarity (SOS) for Yemen I - Aksi Cepat Tanggap Rudi Purnomo mengabarkan, ACT bersama mitra dan relawan lokal telah berhasil mendapat perizinan untuk mendistribusikan bantuan berupa matras dan selimut pada Rabu (29/11). Sekiranya 100 keluarga di daerah Shamlan, Kota Sana’a, Yaman menerima bantuan itu.  

“Alhamdulillah setelah berupaya meminta izin untuk melakukan pendistribusian bantuan, kami lalu mencari logistik untuk selanjutnya didistribusikan,” kata Rudi. 

Tampak puluhan orang tengah mengantri di sebuah tanah lapang. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, bahkan anak-anak turut berkumpul untuk melakukan pendataan, sebelum mereka menerima matras dan selimut yang ACT bawa. 

“Tujuan pendataan agar logistik dapat dibagikan secara merata. Juga dapat mempermudah apabila kami akan melakukan aksi pembagian bantuan lagi,” jelas Rudi. 

Menurut Rudi, suhu yang terus menurun pada malam hari di Yaman seringkali membuat badannya seolah beku. Padahal, posisinya Rudi menginap di sebuah bangunan tertutup yang terletak di Kota Sana'a. Lantas, bagaimana rasanya bagi mereka yang tinggal di tenda pengungsian?

Salah seorang warga yang tak ingin disebutkan namanya pun bercerita, ia semakin mengalami kesulitan ketika musim dingin datang. “Kami sangat membutuhkan bahan pangan, bantuan kesehatan, dan air. Kami tidak ada uang untuk membeli itu semua, di sini harga-harga semakin melonjak tidak wajar,” ungkapnya. 

Hidup sebagai pengungsi di negeri sendiri memang membuat mereka tak dapat berbuat banyak. Melansir theguardian.com, mayoritas pekerja di Yaman pun tidak lagi mendapat bayaran selama lebih dari dua tahun. Alhasil, mereka membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup, sekaligus untuk bangkit kembali.

“Insya Allah kami akan terus berupaya membersamai mereka, seperti apa yang mereka harapkan, tentang masyarakat Indonesia yang senantiasa memberikan perhatiannya kepada warga Yaman,” tutur Rudi. []

Bagikan