Selimut yang Amat Berarti

Selain menghindari konflik, para pengungsi Suriah juga harus bertahan di suhu dingin yang membekukan.

Selimut yang Amat Berarti' photo
Para pengungsi di Kamp Pengungsian Maarat Shuren menerima bantuan musim dingin berupa selimut dan pangan. (ACTNews)

ACTNews, IDLIB – Barisan pengungsi sudah mengular saat truk bantuan musim dingin parkir di samping tenda-tenda Kamp Pengungsian Al Salam, Idlib. Matahari tertutup putih awan. Suhu dingin membekukan jari-jari. Sisa es dan becek tanah masih menggelayut di roda ban truk.

Aisyah, anak perempuan berusia 15 tahun itu, ikut dalam barisan. Bersama keluarga ia mengungsi. Aisyah tidak sepenuhnya paham mengapa ia berada di pengungsian, meninggalkan sekolah, rumah yang nyaman, dan teman-teman yang menyenangkan.

Dua orang relawan mengangkut selimut turun. Mereka memberikan satu per satu kepada pengungsi “Jazakallah, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan lebih baik,” kata Aisyah saat gilirannya tiba.

Aisyah adalah satu dari ribuan pengungsi yang baru tiba di wilayah Idlib pada pekan keempat Januari lalu. Eksodus pengungsi saat itu kembali mencuri perhatian dunia. Melalui jalur kemanusiaan, Aksi Cepat Tanggap terus berikhtiar meredam dampak krisis kemanusiaan  di Suriah. Salah satunya dengan rutin mengirimkan bantuan musim dingin. Akhir Januari lalu, bantuan musim dingin diberikan untuk 830 kepala keluarga.

“Ada dua kamp pengungsian yang kami datangi, yakni Al Salam dan Maarat Shuren. Mereka adalah pengungsi internal Suriah yang baru tiba di wilayah Idlib Utara,” jelas Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT, Selasa (4/2).

Bantuan yang diberikan kali itu berupa selimut. Tampak sederhana namun amat berarti bagi pengungsi untuk menghangatkan diri di suhu minus Suriah.


Bagikan