Semangat Bersyukur Relawan MRI Dampingi Anak Rohingya

Peran para relawan amat penting dalam menangani pengungsi Rohingya di Lhokseumawe, Aceh Utara. Mereka adalah dermawan yang diamanahkan mengurusi langsung kebutuhan pengungsi, mulai dari makan, pengungsi yang sakit, hingga psikososial pengungsi anak.

Semangat Bersyukur Relawan MRI Dampingi Anak Rohingya' photo
Relawan Masyarakat Relawan Indonesia Aceh Utara mendampingi pengungsi anak-anak Rohingya yang ditampung di gedung milik kantor imigrasi Kota Lhokseumawe, Senin (29/6). (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, LHOKSEUMAWE - "Alhamdulillah, al.. ham.. du.. lillah," Budiman Ali (28), relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kota Lhokseumawe, mengeja lafal syukur sembari membagikan makan siang kepada anak-anak Rohingya yang mengungsi di gedung milik Imigrasi Kota Lhokseumawe, Senin (29/6). Ungkapan syukur menjadi ajaran yang ditanamkan para relawan MRI kepada anak-anak Rohingya.

Bahasa yang terbatas bukan halangan. Para relawan banyak menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan pengungsi Rohingya. Seperti siang itu, kata 'alhamdulillah' dan tatapan mata yang ramah sembari membagikan makan siang menjadi komunikasi bermakna. Anak-anak langsung mengerti. Hamdalah pun terdengar bergantian dari mereka setelah menerima makan siang.

Syukur menjadi salah satu nilai yang dipegang relawan MRI saat bertugas menangani pengungsi Rohingya di Lhokseumawe. "Alhamdulillah" selalu diucapkan tiap kali anak-anak menerima sesuatu. Ketua MRI Aceh Utara Muhadaruddin mengatakan, kebiasaan sederhana mengucapkan "alhamdulillah" diharapkan dapat menanamkan rasa syukur di hati para pengungsi anak, walaupun mereka saat ini dalam kondisi yang tidak terlalu baik.

"Terima kasih langsung ke Allah. Kita saling mengingatkan untuk bersyukur, satu sama lain antara relawan atau pun para pengungsi, itu yang ingin kita tanamkan ke anak-anak," kata Muhadaruddin.

Relawan memang menjadi garda terdepan dalam penanganan krisis kemanusiaan. Mereka adalah orang pertama yang berinteraksi dengan para korban. Sebab itu, para relawan juga harus memiliki kemampuan interaksi sosial yang bagus. Bagi relawan MRI Lhokseumawe dan Aceh Utara, mendampingi pengungsi Rohingya bukan kali pertama. Tahun 2015 lalu, mereka juga membersamai ratusan pengungsi yang terdampar di Bireuen.

Dalam aksi kali ini, lanjut Muhadaruddin, hingga 10 orang relawan ditugaskan mendampingi pengungsi Rohingya setiap harinya. "Kalau total ada ratusan, tetapi setiap hari ada dua yang jaga piket di pos depan, ada yang tugas masing-masing untuk membagikan makan pagi, makan siang, psikososial, atau sekolah darurat," lanjutnya.

Sejak pengungsi Rohingya terdampar ke Lhokseumawe Rabu (24/6) lalu, ACT dan MRI langsung bergegas mendukung kerja pemerintah daerah. ACT membuka dapur umum untuk memenuhi makan para pengungsi, beberapa hari ke depan Humanity Food Truck, Humanity Water Truck, dan Ambulans Pre-hospital akan tiba di Kota Lhokseumawe untuk menyuplai kebutuhan dasar para pengungsi.[]


Bagikan