Semangat Mengajar Tinggi jadi Modal Guru Bergaji Rendah di Sukabumi

Di tengah rendahnya upah sebagai guru MD, mereka, pejuang pendidikan Islam tak patah semangat. Bermodalkan semangat mengajar yang tinggi, mereka ikhlas, walau harus juga bekerja sampingan untuk memenuhi kehidupan.

gaji guru diniyah
Siti (kiri) sedang memperhatikan muridnya mengeja tulisan Arab. Ia merupakan salah satu guru MD di Sukabumi yang bergaji rendah. (ACTNews)

ACTNews, SUKABUMI Dunia pendidikan berbasis keagamaan Islam di Indonesia bermacam-macam. Tidak hanya pesantren, madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), atau universitas islam negeri (UIN), tapi juga ada madrasah diniyah (MD) yang banyak tersebar di berbagai wilayah.

MD sendiri lebih formal dibanding kegiatan pengajian anak-anak yang biasa dilakukan di rumah ustaz. Di mana terdapat tenaga pengajar, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan yang mengelolanya. MD biasa dilakukan selepas zuhur hingga sore.

Akan tetapi, para guru yang terlibat di pendidikan tingkat MD ini pun tak lepas dari permasalahan kecilnya gaji. Aksi Cepat Tanggap (ACT) menemukan di Sukabumi salah satunya. Di salah satu MD di Desa Cijurey, Kecamatan Gegerbitung, guru di sana hanya mengantongi upah Rp100-250 ribu saja per bulannya. Untuk mencukupi kebutuhan harian, para guru ini juga mengerjakan hal lain untuk mendulang rupiah.

Chevy Mulyana misalnya. Sudah lima tahun ia mengabdi menjadi guru di salah satu MD di Cijurey. Selain menjadi guru, Chevy juga berjualan pulsa dan paket data untuk menambah penghasilan.

Melakukan pekerjaan lain juga dilakukan As Parman. Upah sebagai guru yang tak menentu di angka ratusan ribu per bulan menjadi alasan pria yang sudah 39 tahun mengajar di salah satu MD di Desa Karangjaya, Gegerbitung tersebut bekerja sampingan. Buruh tani dipilihnya untuk mendapatkan uang tambahan.

"Namanya buruh tani, baru ke sawah kalau ada yang minta bantuan (memberi pekerjaan)," ujarnya.

Resdiana Pratama dari tim Program ACT Sukabumi menjelaskan, mayoritas dana operasional MD di Sukabumi 100 persen berasal dari iuran siswa. Iuran itu digunakan untuk mendukung berbagai aktivitas serta operasional lembaga MD, termasuk menggaji guru-guru. Maka dari itu, upah pengajar sangat sedikit, karena tak mungkin juga membebankan biaya pendidikan yang besar untuk anak-anak, karena tak jarang juga murid datang dari keluarga prasejahtera.

"Bermodal semangat mendidik yang tinggi dan keinginan agar generasi muslim memiliki pengetahuan agama yang luas sejak usia dini, membuat guru-guru ini ikhlas melakukan profesi mereka,” kata Resdiana, Rabu (6/10/2021).

Di MD, para murid mendapatkan berbagai ilmu tentang Islam. Tak hanya mengaji, tapi juga tajwid, hadis, fikih, sejarah Islam, serta akidah dan akhlak,” tambah Resdiana.[]