Semangat Menimba Ilmu di Samping Gudang Barang Rongsokan

Berawal dari mengajar anak-anak sendiri di dalam rumah, para tetangga ikut menitipkan anak-anak mereka ke Yayan Abdul Razak. Semakin banyak murid-muridnya sehingga Yayan menjadikan sebagian gudang penyimpanan barang rongsokannya menjadi sebuah tempat mengaji bagi anak-anak Dusun Desa Beber, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon.

Semangat Menimba Ilmu di Samping Gudang Barang Rongsokan' photo
Yayan dan istrinya sedang mengajar. (ACTNews)

ACTNews, CIREBON – Di sebelah ruang penyimpanan barang-barang rongsok, beberapa anak Dusun Pagedangan, Desa Beber, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon menimba ilmu. Sekitar 200 anak belajar secara bergantian dari siang hingga sore menjelang malam.

Kedua ruangan itu sebelumnya merupakan gudang rongsokan yang akan dijual. Yayan Abdul Razak, pemilik ruangan tersebut, adalah pengepul barang bekas yang sesekali juga memulung. Pada sore harinya Yayan mengajar beberapa anak-anak mengaji di rumahnya. Namun karena anak didiknya semakin hari semakin banyak, Yayan merasa harus ada ruangan sendiri untuk anak-anak didiknya.

“Mulainya itu tahun 2012 ketika bangun rumah. Awalnya mengajar anak-anak sendiri di kamar, terus lama-lama tetangga juga mulai pada ikut (menitipkan anaknya). Pindah ke ruang tamu, tidak muat juga. Lalu pindah ke depan teras rumah, tidak muat juga karena tambah banyak lagi anak-anaknya. Akhirnya gudang rongsokan saya penggal jadi 2,” kenang Yayan sambil tertawa pada Ahad (9/2) lalu.

Setengah tahun belakangan aktivitas dalam mengajar secara resmi menjadi aktivitas yayasan yang bernama Umi Sholihah. Bersama istrinya dan dua orang tetangganya, Yayan mengajar balita hingga anak-anak SMP. Anak-anak ini belajar di Yayasan Umi Sholihah dengan bayaran Rp10 ribu satu rumah per bulannya.


Yayan bersama istrinya di depan gudang rongsokan mereka yang dibagi dua agar anak-anak Dusun Pagedangan bisa belajar di sana. (ACTNews)

“Selama 7 tahun ini memang gratis, lalu ketika berubah menjadi yayasan, katanya supaya ada ikatan dengan wali santri, maka kita kenakan per rumah Rp10 ribu. Mau anaknya yang belajar ada 5 orang pun, tetap bayarnya Rp10 ribu. Itu kalau bayar, kalau tidak bayar juga tidak kita tagih. Anak yatim juga tidak kita tagih,” ujar Yayan.

Aktivitas Yayasan Umi Sholihah sendiri dapat bertahan sejak 2012 karena niat Yayan yang kuat, yakni untuk membagi ilmu yang ia dapatkan di pondok pesantren. Sebenarnya setelah lulus dari pondok pesantren ia ingin kuliah, tapi terbentur biaya.

“Tahun 1997 sampai 2003 saya menimba ilmu di pesantren dan ditugaskan di Yogyakarta. Setelah itu mau sekolah, terbentur ekonomi. Saya akhirnya pulang kampung dan memulung barang rongsokan. Setelah menambung dari hasil mengumpulkan alumunium, dijual dan dapat mobil. Dengan mobil itu sekarang saya jual beli rongsokan dari pabrik saja, memulungnya kadang-kadang. Penghasilannya alhamdulillah, cukup untuk ibadah,” cerita Yayan.


Para pengajar di Yayasan Umi Sholihah sendiri, digaji dari uang bulanan para santri. Berkisar Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per bulannya, mengingat anak-anaknya juga tidak benar-benar ditagih untuk membayar biaya bulanan.

“Pengajar memang baru ada 6 bulan belakangan setelah berdiri yayasan. Uangnya juga dari iuran tadi. Kadang kebagian gaji Rp75 ribu satu bulan, kadang Rp100 ribu. Alhamdulillah ada juga dari Global Zakat – ACT) yang sudah datang memberikan bantuan untuk guru 2 kali ke sini,” ujar Yayan.

Bantuan tersebut diberikan pada Desember 2019 tahun lalu dan pada Januari tahun 2020 ini. Ogie Nugraha Adhiwijaya mengatakan bahwa bantuan ini merupakan apresiasi bagi tenaga pendidik di Yayasan Umi Sholilah karena dedikasinya di Dusun Pagedangan.

“Walaupun sudah menetapkan bayaran semenjak menjadi yayasan, semangat mereka masih sama seperti (ketika yayasan) awal berdiri karena tidak memaksakan bayarannya juga kepada keluarga prasejahtera. Oleh karena itu, kita memberikan apresiasi kepada mereka agar semangat ini terjaga,” kata Ogie.

Ke depannya, ACT melalui Global Wakaf juga berencana membangun Sumur Wakaf di sekitar Yayasan Umi Sholihah. Hal ini mengingat daerah tersebut juga mengalami kesulitan air sehingga warga dan para santri harus mengambil air sejauh 500 meter dari pemukiman warga. []


Bagikan