Semangat Siswa di Donggala Meraih Cita

Semangat Siswa di Donggala Meraih Cita

ACTNews, DONGGALA – Hujan turun saat kelas memasuki jam pelajaran terakhir di pertengahan hari. Siang itu, matematika menjadi penutup studi kelas 12 MIPA MA Al Khairaat. Sekolah itu terletak di kawasan pantai barat, tepatnya di Desa Batusuya Go’o, Kecamatan Sindue Tombusabora, Kabupateng Donggala. Pascagempa 28 September lalu, madrasah aliah dengan 120 siswa itu harus melangsungkan KBM di ruang kelas darurat.

Kamis (22/11), seharusnya ada 12 siswa yang duduk di kelas 12 MIPA, namun siswa yang hadir hanya separuh jumlah. Nur Inang Sari (17) masih duduk di sana, padahal kelas sudah usai. Ia belum bergegas pulang lantaran hujan terlanjur turun. Sambil menunggu hujan reda, Nur dan sejumlah siswa lainnya memilih duduk di “ruang kelas”, sebuah terpal yang dibentangkan sebagai atap dengan penyangga bambu. Mereka memilih duduk agak ke tengah, sebab kucuran air hujan dari ujung terpal bisa sewaktu-waktu tumpah membasahi apa yang ada di bawahnya.

Ruang kelas darurat MA Al Khairaat

Sudah lebih dari sebulan, Nur dan siswa MA Al Khairaat lainnya terpaksa belajar bernaungkan terpal dan berdindingkan bambu. Setelah gempa, empat ruang kelas di sekolah itu tidak dapat digunakan lagi. Adapun dua ruang kelas roboh, sedangkan kuda-kuda penyangga atap di dua ruang kelas lain bergeser. Keadaan itu tentu membahayakan karena atap bisa saja roboh sewaktu-waktu.

“Nyamannya sih (belajar) di gedung, tidak panas. Ini kan kalau pagi terik matahari pas (mengenai) kita belajar. Kalau di gedung itu tidak ada (tidak kepanasan),” cerita siswa yang bercita-cita jadi bidan itu.

Suasana KBM di kelas darurat MA Al Khairaat

Pihak sekolah menjelaskan, empat kelas darurat didirikan sebagai upaya untuk melanjutkan KBM. Masing-masing satu kelas untuk kelas 10, 11, 12 MIPA dan 12 Ilmu Sosial. Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan Dedi mengaku, saat ini KBM di MA Al Khairaat belum pulih sempurna. Berbagai pihak, baik siswa, guru, dan pengurus sekolah harus bertahap menyesuaikan keadaan  usai gempa.

“Sebelum gempa, proses belajar mengajar di sini alhamdulillah lancar mbak, teratur. Tapi setelah gempa, teman-teman guru juga banyak yang terdampak, siswa pun sedikit karena diambil keluarganya yang jauh (mengungsi),” papar Dedi. Lebih lanjut, ia dan segenap pihak sekolah berharap ada pihak-pihak yang membantu mereka memperbaiki gedung sekolah lagi.

Ruang kelas MA Al Khairaat yang hancur

Ketua Posko Aksi Cepat Tanggap (ACT) Wilayah Sindue Tambusabora Subaqir menerangkan, berdasarkan hasil survei tim, MA Alkhairat menjadi salah satu fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan berat di Kecamatan Sindue Tombusabora. “Waktu tim ke sini (MA Al Khairaat), belajar mengajar sudah di tenda. Kalau hujan mereka kehujanan karena tendanya masih kurang lebar. Harapannya bisa ada pihak yang membantu, karena sekolah kan tempat belajar,” ujar Subaqir saat mendampingi tim media ACT berkunjung ke MA Al Khairaat, Kamis (22//11).

Tetap bercita-cita

Gempa tidak membuat semangat dan cita-cita siswa MA Al Khairaat goyah. Nur salah satunya, ia bersemangat ketika ditanya soal kelanjutan pendidikan. Penuh keyakinan Nur menyebut nama sejumlah universitas terbaik di Sulawesi Tengah sebagai cita-cita tempat ia belajar di jenjang tinggi. Keadaan pascagempa pun tidak menyurutkan targetnya untuk lulus dengan baik.

 

Nur Inang Sari bercita-cita menjadi bidan

Lain lagi cerita Fahri (17), ia adalah salah satu siswa “menumpang” di MA Al Khairaat. Fahri sebenarnya sekolah di salah satu SMA di Kota Palu. Selama ini ia tinggal bersama kakak tertuanya di sana, sedangkan orang tua Fahri tinggal di Desa Batusuya Go’o.

“Saya izin ke sekolah (di Palu) untuk sementara belajar di sini (MA Al Khairaat). Waktu gempa dan tsunami orang tua menjemput saya. Nanti kalau mendekati simulasi (ujian nasional) saya harus kembali ke sekolah di Palu,” cerita Fahri. Keadaan membuat sejumlah sekolah terdampak bencana alam di Sulteng mengizinkan siswanya belajar di sekolah lain. Hal itu dikarenakan keadaan siswa yang harus mengungsi atau pindah tinggal sementara.

Fahri mantap melanjutkan studi di univeristas negeri di Yogyakarta

Bagi Fahri, belajar di sekolah darurat yang harus dijalaninya kini bukan penghalang untuk belajar mencapai cita-cita. “Saya mau kuliah jurusan kesehatan di universitas negeri di Yogyakarta Kak,” ucapnya mantap. []