Semangat Siti Qomariyah Menjadi Guru di Desa

Menjadi pengajar di desa harus memiliki niat, tekad, dan semangat yang bulat. Gaji yang tak seberapa menjadi tantangan terbesar konsistensi para pendidik di kampung.

Ibu Siti Qomariyah dengan dua anaknya. (ACTNews)
Ibu Siti Qomariyah dengan dua anaknya. (ACTNews)

ACTNews, BANYUMAS — Sering kali kita jumpai para guru mengaji di kampung mengajar dengan ikhlas dan tidak dibayar, atau guru sekolah digaji dengan jumlah yang kecil. Namun, mereka tetap konsisten mengajar anak-anak tanpa lelah. 

Seperti yang dijalani Siti Qomariyah, guru TK Diponegoro 109 Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Ibu dua anak ini, enam hari dalam sepekan harus mengajar anak-anak di wilayahnya. TK tempatnya mengajar tidak begitu besar, jumlah muridnya sebanyak 16 orang dengan rincian 7 laki-laki dan 9 perempuan.  

“Menjadi pengajar di desa itu berbeda dengan kota. Jika di kota gajinya UMR, di desa sudah mendapat gaji pas-pasan itu harus bersyukur. Saya mengajar diberi uang Rp600 ribu per bulan. Kalau dibilang cukup, iya enggak cukup, tapi harus tetap bersyukur,” kata Siti, Rabu (5/5/2021).

Di akhir Ramadan ini, syukur yang dirasakan Siti Qomariyah bertambah tatkala mendapatkan paket pangan. Kepala Cabang ACT Purwokerto Andi Rahmanto mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk kasih sayang dan apresiasi bagi para dai dan guru seperti Siti di pelosok negeri yang semangat dan tak kenal lelah mengabdikan dirinya untuk pendidikan. 

“Sebelum diberi bantuan, para penerima manfaat telah melalui proses penyeleksian. Mereka adalah orang-orang yang tangguh dan tetap semangat menyiapkan generasi yang tangguh di bidang pendidikan dan keagamaan,” ujar Andi.

Andi mengajak dermawan yang memiliki keluangan harta dan atau ingin menunaikan zakatnya, bisa menyalurkannya ke Indonesia Dermawan. Karena donasi dan zakat yang dikumpulkan dari para muzaki diperuntukkan bagi guru, dai, dan warga prasejahtera di seluruh Indonesia. []