Semangat Tasneem Sembuh dari Gagal Ginjal

Semangat Tasneem Sembuh dari Gagal Ginjal

ACTNews, GAZA – Tasneem hanya bisa berbaring lemah di tempat tinggalnya di Gaza, Palestina. Remaja 16 tahun itu mengalami gagal ginjal. Cuci darah menjadi bagian hidupnya karena jika tidak, akan berpengaruh buruk pada kehidupannya.

Kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT), Tasneem mengatakan dalam sepekan ia harus tiga kali mencuci darah. Di Gaza, pengobatan untuk gagal ginjal menjadi hal yang sulit. Antrean panjang untuk mencuci darah menjadi salah satu rangkaian proses pengobatan Tasneem. Kendala bertambah saat listrik untuk menghidupkan alat medis tak tersedia 24 jam.

Kondisi ekonomi keluarga Tasneem juga terbatas, sehingga biaya pengobatan Tasneem menjadi beban tersendiri bagi keluarganya.

Maret 2019 lalu, ACT melalui program Mobile Social Rescue (MSR) memberikan santunan pengobatan kepada Tasneem. "Santunan ini nantinya akan digunakan untuk biaya cuci darah yang harus Tasneem lakukan rutin setiap pekannya," terang Nurjannatunaim selaku Koordinator MSR-ACT, Jumat (12/4).

Ayah Tasneem, Zayed Khaled Heji mengutarakan rasa syukurnya atas santunan ini. Ia mengatakan, adanya santunan ini menjadi penyemangat baru untuk Tasneem dapat sembuh secara total dari gagal ginjal. “Terima kasih atas bantuan dari masyarakat Indonesia,” ungkap Zayed.

Kasus gagal ginjal di warga Gaza terbilang cukup tinggi. Pada akhir tahun 2018 saja, terdapat 800 orang mengalami gagal ginjal. Penanganan untuk pengobatan mereka terkendala banyak hal, yang paling utama ialah pasokan obat-obatan di Gaza yang semakin menipis pascablokade pihak Israel terhadap berbagai barang kebutuhan ke Gaza, termasuk kebutuhan medis sejak 12 tahun silam.

Kementerian Kesehatan Palestina pada 2018 lalu meminta kepada dunia internasional untuk memperhatikan kondisi kesehatan warga Gaza yang semakin memprihatinkan. Pasalnya, untuk penderita gagal ginjal yang hendak cuci darah perlu mengantre untuk mendapatkan layanan ini. Pasien harus bergantian dengan pasien lain. Sementara itu, tak ada rumah sakit lain kecuali dari Kemenkes Palestina yang dapat melayani dengan maksimal karena kendala obat serta listrik untuk menyalakan alat medis.

Untuk penderita gagal ginjal di Gaza, transplantasi ginjal tak selalu menjadi solusi penyembuhan. Pascaoperasi transplantasi ginjal, ketersediaan obat tak selalu ada. “Dikhawatirkan habisnya mycophenolate acid (obat penolak organ baru di dalam tubuh) dapat membuat ginjal yang baru ditanam tak bekerja dengan baik dan membuat pasien kembali harus cuci darah,” ungkap pihak Kemenkes Palestina dalam siaran pers Oktober 2018 lalu.

Di Gaza, banyak rumah sakit terancam tutup karena kekurangan obat serta energi listrik yang dibutuhkan untuk operasional. Blokade Israel membuat segalanya terbatas, aliran listrik tak 24 jam menyala, bahkan hanya beberapa jam saja. Israel juga mempersulit rujukan pasien gagal ginjal di Gaza menuju Tepi Barat.

Krisis berbagai bidang di Gaza telah berlangsung sejak beberapa belas tahun silam. Blokade ketat dilakukan Israel membuat Gaza terisolir. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan jika blokade terus berlangsung, pada tahun 2020 nanti diprediksi Gaza menjadi kota yang tak layak huni lagi bagi manusia. []

Baca juga:

Tasneem: Tak Ada Keluh dalam Ikhtiar untuk Sembuh