Semangat Wakaf Sejak Zaman Nabi Yusuf

Sebelum tiba masa paceklik selama tujuh tahun, Nabi Yusuf telah menganjurkan rakyat Mesir pada untuk menanam selama tujuh tahun. Semangat inilah yang selaras dengan semangat wakaf.

Ilustrasi. Umat muslim sedang menunggu azan salat Jumat di depan Masjid Al-Azhar Kairo. (AP/Khalil Hamra)

ACTNews, JAKARTA – Pada zaman Nabi Yusuf, raja Mesir saat itu bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi yang kurus dan ada tujuh tangkai gandum yang hijau dan yang lainnya kering. Nabi Yusuf kemudian menakwilkan mimpi tersebut bahwa Mesir akan mengalami masa subur selama tujuh tahun, dan paceklik pula dalam tujuh tahun.

Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan,” demikian saran Nabi Yusuf saat itu seperti dijelaskan dalam Surat Yusuf ayat 47 dan 48.

Ustaz Abdulkadir Baraja menjabarkan, dari ayat ini dapat dilihat bagaimana cara Nabi Yusuf mengenalkan konsep wakaf. “Mengulas tafsir Surat Yusuf, cerita Nabi Yusuf ini ada dua periode. Periode subur, dan periode paceklik. Pada periode subur, menganjurkan rakyatnya untuk seidkit yang dimakan sedikit yang disimpan. Pada periode paceklik, sedikit yang dimakan, sedikit yang disimpan. Pertanyaannya yang banyak ke mana? Yang banyak itu dikelola sebagai wakaf produktif,” ujar Ustaz Abdulkadir pada pertengahan Oktober 2020 lalu.

Bibit gandum yang dikelola inilah tentu yang menghidupi masyarakat Mesir pada saat itu selepas masa paceklik berakhir. Semangat wakaf itu terus terjaga di Mesir sampai beberapa masa ke depannya.

Sebagai contoh Badan Wakaf Al-Azhar yang sampai kini masih aktif menyokong dan mengelola harta wakaf yang diperuntukkan bagi beasiswa, asrama mahasiswa, dan kegiatan-kegiatan lainnya sesuai visi pendidikan kampus tersebut.

Kemudian cerita tentang Sholah Athiyah yang mampu mengembangkan kota kecil bernama Tafahna Al Asyraf di Provinsi Daqahliyah, Mesir. Demikian menurut Ustaz Abdulkadir hikmah yang dapat dipetik dari kisah Nabi Yusuf.

“Sehingga negara Mesir menjadi negara kuat sekali, walaupun dalam keadaan paceklik. Kita tidak lagi bergantung kepada orang lain, tetapi bergantung kepada kekuatan diri sendiri. Ini semangat daripada wakaf,” tutup Ustaz Abdulkadir.[]