Sembalun Krisis Air Panjang, Dampak Gempa dan Kemarau

Warga dusun yang berada di kaki Gunung Rinjani itu kini harus rutin membeli air paling tidak satu tangki per minggu, jika tidak bergantung pada bantuan.

Sembalun Krisis Air Panjang, Dampak Gempa dan Kemarau' photo

ACTNews, LOMBOK - Mobil Humanity Water Tank berhenti untuk memarkirkan diri di tanah lapang. Debu-debu berterbangan, tanda tanah itu telah kering dalam waktu yang lama. Relawan yang turun dari mobil tersebut memasang masker mereka ke wajah untuk menghalau debu. Lain lagi dengan beberapa ibu-ibu yang setengah berlari ke arah mobil tersebut membawa ember. Mereka tak berusaha menutupi wajah dari debu yang berkejaran ke arah mereka.

“Air mas, ke sini airnya. Kekeringan kita ini. Sudah hampir tidak mandi seminggu,” kata seorang ibu setengah berteriak. Si relawan tertawa kecil, menganggap ibu tersebut bercanda. Si ibu lantas menimpali, “Benar ini, Mas, serius kita tidak bercanda.”

Ibu itu adalah Iin Farlina, warga Dusun Bawak Nao Lao, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur. Iin sudah beberapa bulan harus membeli air karena ketiadaan sumber air di dusunnya. Untuk membeli seribu liter air, Iin harus mengeluarkan uang Rp 100 ribu.

“Air itu saya pakai buat cuci sama memasak. Beberapa hari ini belum ada air lagi. Lihat saja itu cucian saya sudah menumpuk di depan rumah, belum bisa saya cuci. Kalau ada bantuan dari Global Zakat-ACT ini kan cukup membantu kita untuk MCK dan memasak seminggu ini,” kata Iin pada Rabu (14/8) lalu.

Gempa pertama sekuat M 6,4 yang mengguncang Lombok Juli 2018 lalu, ikut mengubur pipa-pipa yang mengalirkan air dari mata air utama. Tambah lagi kini kemarau panjang melanda mereka sejak Maret lalu, sehingga sumur bor atau sungai-sungai kecil yang biasa mereka gunakan mengering sama sekali.

Biasanya juga jika musim hujan tiba, warga Dusun Bawak Nao Lao memiliki penampungan air hujan di belakang rumah mereka. Air itu, kata Iin bisa, digunakan lagi sekalipun disimpan berhari-hari. Tetapi jika melihat ke penampungan tersebut pada belakangan ini, tidak ada air bersih di sana. Hanya terlihat kubangan air kecil yang menghijau karena lumut.


Belum lagi penghasilan Iin dari meladang ikut terganggu. Ladang bawang putih yang ada di belakang rumahnya membutuhkan satu tangki air juga selama satu minggu. Kalau tidak, lahannya akan mengering begitu saja dan gagal panen.

“Lahan di sini banyak yang sudah kering. Tapi kalau punya saya, masih saya beri air dari air yang dibeli. Cukup repot, tapi kalau tidak, nanti saya mau makan apa? Lebih baik saya beli air biar ladang saya ini tetap hidup,” kata Iin.

Berbeda dengan Iin, salah satu warga lainnya bernama Sanirih lebih memilih membiarkan sawahnya gagal panen. Sawahnya kini menganggur dan tanamannya kini sudah mati. Ia lebih memilih air yang ia dapatkan untuk keperluan MCK dan memasak saja.

“Kita harus mengairi sawah, tapi kalau mau mengairi sawah kan mesti menunggu hujan datang. Nah, sekarang ini airnya tidak ada, makanya sawah saya menganggur. Sawah, ladang, semuanya kering. Kita mau menanam kacang atau tanaman apa pun memang tidak bisa hidup,” kata Sanirih.


Saking bingungnya karena persoalan air yang dihadapi di dusun tersebut, Sanirih tidak mengharap banyak. Ia hanya berharap air dapat mengalir dengan mudah di Sembalun dan kehidupan warga kembali normal seperti sedia kala.

“Harapan kita biar kita dapat airlah. Yang penting kami minta air saja di sini. Karena kami sangat kekurangan air. Kalau musim hujan memang ada air, tapi ini kan sudah tiga bulan musim kemarau. Jadi tidak ada air sama sekali,” kata Sanirih.

Matahari mulai naik, menyinari kembali sungai-sungai yang berada di dekat Dusun Bawak Nao Lao. Iin dan Sanirih benar: air hilang, menguap entah sejak kapan. Sungai besar bahkan mulai jadi daratan. Tinggal bebatuan, dan debu, dan rumput liar di bawah sana. []

Bagikan