Sembilan Bulan Lamanya Samsudin Menderita Hidrosefalus

Sembilan Bulan Lamanya Samsudin Menderita Hidrosefalus

Sembilan Bulan Lamanya Samsudin Menderita Hidrosefalus' photo

ACTNews, ALOR - Kondisi Samsudin Taebanu, yang masih berusia 9 bulan, tidak seperti anak-anak seusianya. Ketika anak-anak lain yang seumuran dengannya sedang senang merangkak, Samsudin mesti terbaring di kediaman bibinya di Kampung Dorukolang, Desa Illu, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Barat. Hidrosefalus membelenggu pertumbuhan bayi tersebut selama 9 bulan lamanya.

Akibat desakan ekonomi, kedua orang tua belum dapat melakukan pengobatan untuk Samsudin. Ayah Samsudin, Elmerd Davidson Taebenu, atau setelah mualaf berganti nama menjadi Amrullah Taebenu, bekerja sebagai buruh tani. Penghasilan Amrullah yang sebesar 15 ribu rupiah hanya cukup untuk makan keluarga. Amrullah bersama istrinya, Amina Tupong, akhirnya merawat Samsudin di rumah bibi Samsudin, karena mereka sendiri belum punya rumah.

Bahkan ketika awal kepalanya mulai membesar, Samsudin sengaja disembunyikan di dalam rumah karena menurut orang tuanya, penyakit ini baru terjadi di kampungnya. Mereka jadi agak takut untuk bercerita kepada orang-orang di lingkungan sekitar. Demikian keterangan yang diceritakan orang tua Samsudin ke Arapah, relawan Mobile Social Rescue (MSR) - ACT di Alor. Selain itu, keluarga juga sulit membawa Samsudin karena tidak memiliki dokumen-dokumen yang lengkap. Keadaan itu diketahui Arapah ketika mengunjungi Samsudin dan keluarga, Senin (25/3) lalu,

“Awalnya Samsudin sakit panas, setelah itu mengalami pembengkakan di kepala. Orang tua tidak membawa ke puskesmas karena tidak punya BPJS. Orang tua Samsudin juga tidak punya KTP serta KK sehingga kesulitan mengurus (pengobatan) anaknya,” jelas Arapah.

Oleh karenanya, tim MSR - ACT memberikan bantuan pertama berupa pendampingan administratif. Beberapa dokumen yang dibuat di antaranya adalah Kartu Keluarga, Kartu Tanpa Penduduk, dan Akta Kelahiran. Serta untuk mempermudah pengobatan, tim juga membantu pembuatan BPJS untuk keluarga Amrullah. Beberapa hari kemudian setelah dokumen lengkap, aksi medis baru dilakukan.

“Tanggal 29 Maret, Samsudin dirujuk ke RSUD Kalabahi dengan perjalanan laut 4-5 jam. Sempat dirawat dan besok (30/3), dirujuk lagi ke Rumah Sakit Siloam, Kupang,” jelas Arapah. Ia menargetkan setidaknya Kamis (4/3), Samsudin akan mendapatkan pelayanan medis lebih lanjut.

Atas bantuan untuk anak semata wayangnya ini, orang tua Samsudin menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Indonesia dan ACT. “Mereka sangat terharu, bahkan sangat berterima kasih kepada ACT yang telah membantu pengobatan Samsudin,” ujar Arapah. []

Bagikan