Sempat Mati Suri karena Sakit, Petani Yusuf Tak Putus Asa Cari Nafkah untuk Keluarga

Mulai dari serangan hama hingga koma karena sakit, cobaan kerap dihadapi Yusuf. Namun petani asal Mojokerto ini tidak menyerah demi menghidupi keluarga.

Yusuf petani dari Mojokerto.
Yusuf (berjalan di pematang sawah) di Desa Jiyu, Mojokerto. (ACTNews)

ACTNews, MOJOKERTO – Selepas SMA, Yusuf (52) kebingungan mencari pekerjaan. Saat itu ia merasa, pekerjaan yang pantas baginya paling-paling buruh pabrik, sales, atau penunggu toko. Semua pekerjaan itu bagi pria kelahiran Mojokerto 1969 lalu ini tidaklah cocok. Selain pendapatan yang tidak mencukupi, pekerjaan-pekerjaan tersebut juga menyita waktunya bersama keluarga. Belum lagi, panggilan jiwanya adalah sebagai pengabdi masyarakat.

Suami dari Siti Salamah ini kemudian ditunjuk masyarakat untuk menjadi penghulu agama, persisnya menjadi modin. Seolah bapak dua anak ini tidak boleh kemana-mana. Kehadirannya dibutuhkan masyarakat untuk jadi juru azan, merawat musala, urus jenazah, dan kadang-kadang menikahkan tetangga. “Pekerjaan saya ini lebih banyak kepada pengabdian masyarakat,” tutur Yusuf, Kamis (11/2/2021). Kalaupun ada upah, sebagai figur penting di desa, Yusuf mendapat jatah tanah desa seluas 75 boto atau sekitar 1.000 meter persegi.

Untuk menafkahi keluarga, sejak lulus SMA, Yusuf memutuskan untuk bertani di Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Kebetulan dia punya lahan sawah dari ibu mertua seluas 2.000 meter persegi. Dengan lahan seluas itu, penghasilan Yusuf relatif cukup untuk menghidupi keluarga. Terlebih berkah setelah didapuk jadi modin desa, lahan garapannya bertambah menjadi total 3.000 meter persegi.


Yusuf bersama sapi yang diditipkan kepadanya. (ACTNews)

Namun Yusuf menuturkan menjadi petani bukanlah hal yang mudah. Banyak faktor yang menyebabkan hasil pertanian sering gagal panen. “Yang sering jadi penyebab adalah ketiadaan modal, dan serangan hama,” kata Yusuf.Tanpa modal, sawahnya tidak bisa digarap meski musim penghujan sudah datang.

Selain tidak ada modal, Yusuf juga pernah mengalami gagal panen. Tinggal beberapa pekan lagi ia panen padi, tiba-tiba di pagi hari semua tanaman padi roboh, batangnya putus digigit tikus. Alhasil, modal yang kadang-kadang didapat dari utang kepada tetangga ludes dan tidak bisa dibayarkan. Kondisi ini menurut Yusuf, yang menyebabkan para petani kecil hidupnya stagnan. "Karena hidupnya gali lubang tutup lubang," jelasnya.

Untuk siasati hasil pertanian yang kadang tekor, Yusuf mencoba buka toko kecil-kecilan di depan rumah mertua yang berlokasi cukup strategis. Usaha berjalan lancar sebelum pandemi Covid-19. Tapi saat ini, ketika semua sektor kehidupan lesu akibat pandemi, Yusuf juga alami kesulitan ekonomi. 


Kesulitan itu makin terasa saat anak sulungnya masuk kuliah, dan di sisi lain masih harus membiayai anak keduanya yang sedang duduk di kelas 4 SD. Di rumahnya juga, Yusuf harus menanggung biaya hidup istri serta dua orang tua: ibu kandung dan ibu mertuanya. “Sekarang, untuk menambah pendapatan, saya menerima titipan sapi (untuk digembala) milik tetangga,” ungkapnya.

Mati Suri

Ujian dari Allah untuk Yusuf ternyata tak cuma kesulitan ekonomi. Di awal pandemi melanda Indonesia, Yusuf koma selama 15 hari. Ia dirawat di salah satu IGD rumah sakit di Surabaya. Dokter mengatakan, Yusuf mengidap Sindrom Guillain-Barre, yaitu suatu penyakit autoimun yang tergolong langka.

Pada penyakit ini, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi justru menyerang sistem saraf perifer yang bertanggung jawab mengendalikan pergerakan tubuh. Total Yusuf dirawat di rumah sakit selama 36 hari.

Ada cerita di kalangan Dukuh Pandansari, begitu para tetangga mendengar Yusuf dirawat di rumah sakit dan kondisinya sudah seperti orang meninggal karena koma. Masyarakat menyiapkan segala yang diperlukan untuk memakamkan Yusuf, bahkan ada warga yang sudah pergi ke makam untuk menggali kubur untuk Yusuf. Namun, begitu mendengar bahwa Yusuf sadar dari kondisi komanya, masyarakat bergembira dan bersyukur sekali.


“Yusuf hidupnya mengurusi masyarakat. Wajar jika saat dia dirawat di rumah sakit dan dikira sudah meninggal, banyak yang merasa kehilangan dan merasa sedih. Mereka kehilangan sosok yang selama ini memenuhi kebutuhan rohani mereka,” tutur Arifin, salah satu warga Dusun Pandansari.

Namun kabar gembira bagi warga dan keluarga Yusuf tidak berlangsung lama. Ketika bersiap untuk pulang, Yusuf dapat surat tagihan dari rumah sakit. Nilainya Rp 200 juta. Berkat bantuan tetangga, Yusuf mengajukan diri sebagai pasien golongan warga tidak mampu. Beruntung upaya tetangga dan keluarganya berhasil. Yusuf dibebaskan dari semua biaya-biaya selama dirawat di rumah sakit.

Sekarang Yusuf sudah kembali ke masyarakat dan kembali ke aktivitas rutinnya menjadi modin. Oleh karena profesi modin bukan sumber utama ekonomi keluarganya, ikhtiar Yusuf kini fokus bertani dan dibantu istrinya menjaga toko kecil, serta menerima jasa titipan pemeliharaan sapi.


Yusuf di depan warung yang kini ia kelola bersama istrinya. (ACTNews)

“Semua itu alhamdulillah cukup memberikan rezeki  untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Sementara hasil dari tanam padi yang diperoleh per tiga atau empat bulan sekali, untuk penuhi kebutuhan biaya kuliah dan sekolah anak, biaya kesehatan, renovasi rumah dan lain-lain,” ceritanya.

Global Wakaf – ACT berikhtiar memberikan bantuan Wakaf Modal Usaha Petani kepada para petani di Desa Jiyu, termasuk Yusuf. Sampai saat ini ada puluhan data petani yang telah dihimpun ACT.[]